Setiap anak dengan dunia fantasinya memiliki tokoh fiksi favorit yang akan menemani mereka sampai beranjak dewasa . Anak-anak punya keterampilan khusus untuk memimpikan dunia ideal, bahkan dalam kondisi tertentu seorang anak bisa membayangkan surga jatuh ke Bumi dalam lembar kertas gambar. Itulah yang kulakukan pada masa kanak-kanak, membayangkan surga itu sungguhan, membayangkan jika Surga adalah hutan belantara berisi Gajah, Macan, Ular, Kera dan jenis hewan lain yang tak kutemui di dunia nyata , kecuali dalam cerita kertas bergambar bernama Tarzan.
Bagiku Surga adalah Hutan dalam cerita Tarzan. Alasannya, Macan, Ular Kobra, dan Gajah tak pernah kutemui di dunia nyata. Kecuali, jika anak-anak yang tumbuh besar di daerah urban ini diajak menemui mereka langsung di Kebun Binatang. Itupun tak menjamin, sebab hewan di Kebun Binatang tak seperti Hewan di Hutan Tarzan, mereka tak bebas, mereka dikurung dan tak ada manusia yang menjadi sahabat mereka. Setelah itu, aku mulai menjadikan mereka lelucon dan dengan kesal sempat ingin merobek semua cerita Tarzan. Mereka tak nyata, mereka tak ada di duniaku.
Siapa yang menyihir masa kecilku sehingga timbul bayangan jika surga adalah hutan dengan kehadiran sosok manusia yang bisa berteman baik dengan hewan. Sementara, hutan duniaku, adalah hutan rusak. Hutan yang membuat gajah berlarian menginjak rumah penduduk kampung, hutan yang mengusir kera ke rumah penduduk untuk mencari makanan, hutan yang membuat ular membenci manusia. Tapi siapa yang menyihir masa kecilku?
Salah satu tokoh fiksi favorit yang setara dengan Cinderella ini pertama kali masuk dalam kepala anak-anak seluruh dunia datang dari tangan penulis bernama Edgar Rice Burroughs, mantan Prajurit Angkatan Darat Amerika. Pada tahun 1912, setelah memutuskan pensiun dari dunia militer dan menjadi sipil, ia menjadi penulis secara tidak sengaja karena bekerja di toko grosir Rautan Pensil. Sembari melakukan pekerjaan harian, ia sering menulis cerita-ceirta fiksi dan secara tidak sengaja pula ia melahirkan novel Tarzan Of The Apes. Orang inilah yang banyak menyihir isi kepala anak-anak di masaku tentang bagaimana kehidupan di hutan.
Tarzan bukan orang hutan sungguhan, ia sebenarnya anak dari keluarga Bangsawan Britania. Sekira pada masa Perang Boer, perang orang Boer dengan Imperium Britania Raya, orang Tua Tarzan tewas dan ia ditinggalkan oleh Pasukan Boer di pesisir Pantai Afrika Selatan. Waktu itu, hutan Afrika masih rimba belantara dan inilah gambaran hutan dalam imajinasi Edgar Rice. Hutan Rimba Belantara, tempat Tarzan diasuh oleh Kala, salah satu Induk Kera Besar yang tak dikenali jenis familinya. Tarzan oleh Kala dianggit menjadi anak dan ia dianggap sebagai anak Kera Besar yang berkulit putih oleh keluarga mereka. Di hutan itulah, di rimba belantara dengan hewan yang beragam, Tarzan hidup sebagai anak dari Seorang Kera. Seorang manusia yang bisa hidup berdampingan dengan hutan dan isi penduduknya sekaligus.
Masalahnya, Tarzan tak pernah benar-benar ada. Fantasi hutan liar yang terpisah dari kehidupan manusia, dan Tarzan yang belum mengerti tentang hutan lalu memahaminya setelah tinggal bersama kera itu tak pernah ada. Hutan dalam film Tarzan adalah hutan Tropis Afrika, Hutan yang dianggap liar dan penuh hewan buas. Fantasi masa kecilku, meski layak dihargai sebenarnya ilusi. Manusia dan Hutan Tropis sesungguhnya sudah hidup berdampingan sejak lama dan mereka sangat mempengaruhi cara hidup kita hari ini. Hutan dalam film Tarzan yang dianggap jauh dari dunia manusia sebenarnya palsu. Mereka hanya ilusi yang diciptakan oleh Ilmuwan Eropa yang belum pernah menyentuh Hutan Tropis.
Masalah ini yang diungkap oleh Patrick Roberts, seorang Arkeolog dan Peneliti yang menulis buku Jungle How Tropical Forest Shaped The World – And Us. Menurutnya, tokoh Tarzan adalah simbol bagaimana Ilmuwan Barat memandang hutan dan penduduknya dengan cara pandang Penjajah. Termasuk bagaimana Tarzan digambarkan sebagai, “King Of The Jungle”. Jungle adalah adopsi Bahasa Inggris dari Bahasa Sansekerta yang berarti, liar, tak terkendali, dan perlu dijinakkan. Tokoh seperti Tarzan digunakan sebagai alat untuk menggambarkan supremasi kulit putih di “alam liar”.
Jungle adalah istilah yang dirampas oleh Inggris dalam perspektif Penjajah. Hutan Tropis sungguhan yang diartikan sebagai Jungle bukan seperti itu sesungguhnya. Dalam penelitiannya, Jungle “Jungle” lebih dari sekadar hutan lebat tropis. Jungle adalah tempat manusia berevolusi, hidup, dan berkembang di hutan tropis sejak ratusan ribu tahun lalu—seperti moyang manusia yang ada di Sri Lanka dan Amazon. Jungle bagi Roberts adalah rumah nenek moyang manusia, bukan tempat asing yang harus ditaklukkan. Jadi Hutan Tarzan sungguhan itu ilusi dan maaf, karakter favorit masa kecilku, aku harus menertawakanmu hari ini.
Baca Selengkapnya dalam buku:
https://www.goodreads.com/book/show/56643986-jungle





Penjelasannya runtut dan rasionalll…