Kay Prufer, Peneliti Antropologi Evolusi dari Max Planck Institute menerangkan, jika memang manusia memiliki gen Simpanse, maka Bonobo adalah Genom terdekat yang sangat mirip dengan manusia. Perbedaan antara manusia dan Bonobo hanya 1,3 persen, sementara Bonobo dengan Simpanse presentasenya lebih dekat, hanya berbeda 0.4 persen. Keterangan ini seperti terapi kejut bagi memori masa kecil saya di ruang kelas Sekolah Umum ketika tengah membahas soal evolusi. Kala itu, belum ada informasi yang saya ketahui jika ada Bonobo, tetapi saya menyukai argumen jika manusia merupakan keturunan lanjut dari Simpanse. Argumen yang membuat teman sebangku saya memukul bagian depan kepala saya, dan mengatakan, “Argumen bodoh, lalu Adam-Hawa kamu yakin seekor kera?”
Sekolahku, sekolah relijius yang mendasari kurikulum pembelajarannya pada doktrin agama Islam. Setiap ciptaan, kami meyakini ada penciptanya dan itulah yang disebut Tuhan. Manusia pertama, ialah Adam dan Hawa dan itu kisah mutlak. Meskipun keduanya dilempar dari Surga menuju Bumi karena melakukan aktivitas seksual terlarang di bawah pohon khuldi. Mereka dijatuhi hukuman karena menuruti hasrat seksual yang sejak semula sudah dilarang oleh Tuhan. Tentang hasrat seksual, Kay Prufer menerangkan Bonobo punya aktivitas serupa. Tidak hanya melakukan seks untuk tujuan reproduksi, tetapi juga untuk bersenang-senang. Seperti Adam-Hawa (?).
Baiklah, ia memukul saya dan tak sepakat, alasannya jelas, satu-satunya perubahan manusia-monyet yang diceritakan dalam kitab suci, adalah mereka para pembangkang yang dikutuk, tapi mereka mulanya adalah manusia. Tapi tentang manusia keturunan simpanse, bertahun-tahun kemudian hingga salah satunya saya menemukan fakta Bonobo, tetap menjadi rasa penasaran saya. Mengapa dan apa salahnya lagipula bila kita berkerabat dekat dengan Sapiens?. Mengapa harus menyesal, lagipula kisah dalam kitab suci belum sepenuhnya matang menceritakan kisah asal mula penciptaan. Kisah yang disebut-sebut oleh banyak peneliti sebagai Kreasionisme.
Meskipun banyak sudah penelitian yang menegaskan cerita ini logis akibat dari hukum evolusi Darwin, di dunia modern cerita ini masih banyak yang menyangkal. Alasannya banyak. Ketika Darwin menulis The Origin Of Species sepulang dari Galapagos, ia heran dan menulis, jika evolusi sebetulnya menghendaki adanya kekuatan untuk bertahan hidup (Survival For The Fittest), maka boleh jadi benar, yang kuatlah yang bertahan untuk menghidup generasi berikutnya. Thomas Malthus, salah seorang Ekonom yang menganut paham ini menerjemahkannya dalam hukum ekonomi. Jika sumber daya untuk manusia hidup terbatas, maka aktivitas manusia saling berebut sumber daya adalah niscaya, dan ekonomi berfungsi sebagai aktivitas Survive for the Fittest.
Orang macam Malthus berjumlah tidak sedikit dan datang dari banyak bidang. Terkadang hukum Darwin ini dijadikan legitimasi untuk meniscayakan konflik bahkan mewajarkan perang. Maka wajar, bila hukum evolusi Darwin terus diuji, begitupun kasus bertahannya Homo Sapiens karena mampu bertahan dari kawanan lainnya seperti Neanderthal. Maka wajar, bertahun-tahun kemudian, orang-orang yang menerima sekaligus mengkritik Darwin masih banyak. Ini semua diulas dengan baik oleh Donald R. Prothero dalam bukunya, What The Fossil Says and Why It Matters.
Mereka, Keturunan Kera Yang Menyesal
Penyesalan ini, menurut Prothero tak jauh-jauh sama seperti pengalaman saya. Sebagian besar, penyangkalan datang dari mereka yang relijius. Di Amerika, tempat Prothero meneliti, penolakan tentang evolusi lebih banyak datang dari mereka yang mempertahankan doktrin agama fundamental. Mereka adalah para Kreasionis yang percaya, tak ada doktrin yang lebih baik menjelaskan kisah penciptaan daripada Bibel dan Genesisnya.
Penulis menggambarkan kreasionisme sebagai sesuatu yang khas di AS dengan ciri pseudosains yang mencuat di Amerika sejak tahun 1960-an. Telah menyatu dengan literalisme Alkitab kuno. Kreasionisme juga tidak terbatas pada agama Kristen. Kreasionisme secara eksplisit dipromosikan dalam Islam oleh Adnan Oktar (“Harun Yahya”), dan telah diadopsi oleh gerakan Yahudi Haredi yang pseudo-ortodoks dan sangat anti-modern. Mereka percaya, memercayai Bibel lebih penting karena mampu menyelamatkan mereka dari dunia dan kepercayaan Sains yang dianggap aneh harus dibuang jauh-jauh. Gambaran paling dekat yang dikuti penulis, salah satunya adalah argumen Hakim Braswell Deen dari Georgia yang mengatakan Mitologi monyet Darwin ini adalah penyebab dari sikap permisif, pergaulan bebas, pil, alat kontrasepsi, penyimpangan, kehamilan, aborsi, pornografi, polusi, dan maraknya segala jenis kejahatan.
Secara rinci, Prothero bahkan menjelaskan, jika penolakan ini bukan hanya tentang monyet. Dalam Geologi, ledakan Kambrium sebagai titik balik evolusi banyak primata pun ditentang. Mereka lebih menyukai argumen jika usia Bumi masih muda. Seperti kelahiran kaum Bumi Datar yang digagas oleh kelompok ini, mereka juga menganggap jika Para geolog adalah pembohong, bahwa tidak ada fosil transisi, bahwa dinosaurus hidup berdampingan dengan manusia, dan bahwa bumi baru berusia 6.000 tahun.
Masih banyak penjelasan mereka yang menyesal tentang argumen evolusi. Dalam catatannya, ia menerangkan sebanyak 19 persen masyarakat Amerika pada tahun 90-an memercayai Bumi Muda dan Bumi Datar, sebagian lain sebanyak 36 persen memercayai Tuhan menciptakan Bumi beserta isinya, berikut manusia di dalamnya, dan hanya 29 persen yang memercayai Manusia berevolusi dari spesies sebelumnya. Kendati prosentae mereka tidak lebih dari setengah populasi Amerika, mereka tetaplah sekelompok unik yang melahirkan sekte-sekte yang menentang evolusi, kera dan penelitian sains kehidupan manusia pra-sejarah.
Sayangnya, semua kelompok penggerutu ini menurut Prothero amat bertentangan dengan epos manusia di masa mendatang. Tentang pengakuan manusia, ia berpendapat tak mungkin menyangkal di masa ini jika Darwin penting karena evolusi penting. Evolusi penting karena Sains penting. Sains penting karena ia adalah kisah utama zaman kita, sebuah kisah epik tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan ke mana kita akan pergi.
Baca Selengkapnya dalam:
https://www.amazon.com/Evolution-What-Fossils-Say-Matters/dp/0231139624




