Cerita Raja Midas, Ekonomi dan Khayalan Manusia

Ajmal Fajar Sidiq
7 Min Read
Image from Nationalgeographic.co.id

Kamu bangun pagi, membuka jendela, pintu dan atau materi sejenis yang bisa membuat cahaya masuk ke dalam kamarmu. Kau terbangun dan berkata pada dirimu, “hari yang cerah, pembuka yang baik untuk memulai hari”. Kamu bersyukur, hari itu cuaca mendukung semua rencanamu. Menyiram pot bunga di halaman depan, bersiap bekerja, bertemu dengan rekan kerja dan teman-teman dan hal-hal lain yang biasa mengisi hari-harimu. Kamu merasa, semua itu berharga dan itulah yang membuatmu merasa hidup! Tetapi, ternyata tak semua yang kau anggap berharga, juga berharga untuk dunia yang kamu jalani. Tawa temanmu, bantuan rekan kerjamu, senyum kekasihmu ternyata tak bisa menghasilkan indikator harga di dunia ini; yaitu, UANG!.

Ada beberapa hal bernilai, tapi tak berharga. Kamu merasa, dunia berjalan tak sesuai dengan keinginanmu. Padahal kebahagiaan, menurutmu terasa begitu luas, tapi mengapa ia melulu diukur uang. Menurut catatan David Graeber, dalam Debt  The First 5000 Years, sebenarnya bukan kebahagiaanmulah yang semu, melainkan uang. Uang itu yang semu dan bukan kebahagiaanmu. Dahulu kala, sebelum uang lahir, orang mengenal kredit. Dalam bahasa sederhana, Kredit adalah Hutang yang sumbernya adalah kepercayaan. Apabila kamu berhasil membuat temanmu tersenyum, ada jaringan kepercayaan yang terhubung antara kamu dan temanmu. Kepercayaan ini, berkembang sehingga kamu melakukan aktivitas “pertukaran”. Kamu memiliki barang berharga, temanmu pun sama, karena itu kalian saling melakukan pertukaran. Misalnya, kamu memiliki sendal, temanmu memiliki baju branded ternama. Kamu membayangkan, sendal lebih murah harganya dibanding baju branded itu, tapi ternyata berkat kepercayaan, teman tetap rela menukar barang yang lebih mahal untuk sendalmu yang murah. Apa sebabnya? Kepercayaan!

Baik uang, hutang dan alat pertukaran lain, sebenarnya sumber utamanya bukan harga itu sendiri, tetapi kepercayaanmu pada seseorang. Ini adalah sumber aktivitas ekonomi yang utama. Tetapi dunia bergerak, kamu hidup tak hanya terhubung dengan temanmu, tapi jaringan sosial yang lebih kompleks. Kamu mengenal tetangga, orang di desa seberang, asing di kota dan negara lain dan seterusnya. Kamu tak bisa mencatat nama mereka satu per satu, tetapi dunia berjalan tak dialami hanya oleh orang-orang yang kamu kenal. Mereka yang asing pun, memiliki peran dalam hidupmu. Sehingga, aktivitas ekonomi semakin kompleks. Munculah uang, sebagai alat tukar dan nilai diubah menjadi harga (angka). Ini semua cerita tentang bagaimana kisah ekonomi manusia bermula.

Seiring dengan perkembangannya, keterhubungan manusia antara satu sama lain, menciptakan sistem. Mula-mula lahir komune, suku, dan atau tribal, hubungan yang lahir karena kekerabatan dan ikatan darah. Kemudian itu semua berkembang dan tiba-tiba munculah sosok “yang dipercaya” untuk mengatur sistem ini, kemudian muncul raja-raja dan kerajaan. Terus berkembang hingga kemudian lahir Negara-Modern. Semua orang terhubung dan ukuran nilai setimbang diperlukan. Artinya, jika kamu Orang Indonesia dan ingin membeli Sushi produk Jepang secara langsung dari sana, kamu memerlukan alat, apa yang membuat kalian mampu saling bertukar dan dianggap setara (equilibrum). Singkatnya, semua hal yang dicicil sejak masa lampau dalam aktivitas ekonomi, kemudian memunculkan ukuran kesetaraan dunia yang diukur oleh Nilai Yang Berada di Dalam Emas.

Emas berpengaruh dalam kehidupan manusia selama berabad-abad, ia menjadi ukuran bagaimana harga ditetapkan dari nilai suatu barang. Tak masalah, jenis barangnya apa, tapi ukuran harganya tetap mengacu pada Emas. Tetapi Emas bukan barang untuk dijual belikan, karena emas itu ukuran, apabila ukuran unviersalnya diperjualbelikan, maka ukuran setara tak akan ada. Kamu dan si Orang Jepang yang jualan Sushi, tak akan bisa bertukar lebih mudah. Tetapi Emas hanya berlangsung sebentar, bertahun-tahun kemudian dongeng ini berubah!! Emas sebagai Nilai mengalami krisis dan ini terangkum dalam kisah yang mirip, seperti Raja Midas.  Dongeng si Raja Emas dari Yunani.

Kisah Raja Midas

Raja Midas adalah seorang Raja Frigia, daerah yang terletak di bagian Barat Anatolia (Yunani Kuno) yang sekarang dikenal sebagai Turki. Dalam Mitologi Yunani, Raja Midas dikenal sebagai sosok raja yang mampu merubah apapun yang disentuhnya menjadi emas. Dari mana kemampuan itu muncul?

Suatu hari, ketika Midas memeriksa kebun mawarnya ia menemukan seorang Satir (makhluk setengah manusia, setengah binatang) pingsan karena sisa mabuk semalam. Kemudian Midas meminta pelayannya menjamu satir ini ke istana. Ternyata ia adalah mentor dari Dionysus (Dewa Mabuk Yunani) bernama Silenus. Lalu Midas menjamu selama 7 hari 7 malam sebuah pesta berisi ragam jenis minuman memabukkan dan berdiskusi tentang banyak hal.

Setelah pesta usai, Midas mengantar Silenus kembali ke Dionysus dan ia memperoleh terimakasih dalam bentuk, Dionysus akan mengabulkan satu permintaan apapun yang diminta oleh Midas. Sebagai seorang Raja, ia sudah merasa cukup memiliki banyak hal. Putrinya Zoë, tak kurang mencintai dirinya, pelayannya setia, hartanya pun cukup banyak. Akhirnya ia memutuskan satu hal yang paling ia cintai dalam hidupnya, yaitu Emas. Lalu ia berkata, “Aku berharap agar apa pun yang aku sentuh berubah menjadi emas,” kata Midas kepada sang dewa.

“Tentu,” jawab Dionysus. Dengan jentikan jarinya, permintaan itu terkabul.

Berkat kekuatannya, ia mampu menaikkan kekayaan kerajaan. Ia bertemu dengan pemburu di hutan, lalu menyentuh beberapa patahan ranting dan ranting itu berubah emas. Pemburu yang takjub itu, meminta emas yang disentuh oleh Midas dan ia memberinya secara cuma-cuma dengan mengatakan, “ambillah, aku bisa membuat emas sesukaku dan kapanpun aku mau”. Ia bertemu dengan nelayan dan mengubah batu di pesisir menjadi emas, dan nelayan itu ikut takjub, Midas kembali memberinya secara cuma-cuma. Kejadian ini terus berulang tak satupun orang yang bertemu dengannya tak memperoleh emas dari tangan ajaibnya.

Masalah baru terjadi, ketika ia menyadari hal janggal di istananya. Dengan kekuatannya, Kerajaan Frigia justru tak bertambah kaya. Dengan adanya produksi emas berlebihan, semua barang-barang di pasar tak terkendali dan mengalami inflasi. Sampai suatu ketika, Midas kehilangan kontrol emosi dan menyentuh putrinya. Satu-satunya harta yang ia cintai selain emas, pun ikut berubah emas. Akhir cerita, Midas menyesal dan meminta Dionysus mencabut kekuatan itu.

TAGGED:
Share This Article
Ajmal Fajar Sidiq adalah penulis yang sering berburu bintang
Leave a comment
Layanan Prima Taman Sains

Form Pendaftaran Kontributor Penulis tamansains.com