Masa Krisis Besar, Betapa Tak Masuk Akalnya Uang dan Emas

Ajmal Fajar Sidiq
8 Min Read
Cryptocurrency design composition with businessman lying on heap of bitcoins and dreaming of riches flat vector illustration

Midas dan Masa Krisis Besar (1929-1939)

Ingat! Salah satu akibat dari perubahan seluruh yang berharga menjadi emas adalah membuat hal lain di luar emas tak berharga. Sebab emas ukuran setimbang harga sebuah barang (goods) yang berubah menjadi barang dagang (komoditas), ketika emas sebagai alat tukar ikut berubah menjadi komoditas menumpuk yang terjadi adalah, sulitnya mengukur tingkat setimbang Emas dan Uang Kertas (FIAT). Emas, pada masa Krisis Besar masih menjadi standar Peredaran Uang di suatu negara dan ukuran suku bunga. Artinya, sebesar apapun uang beredar, ukurannya tetap berada pada Emas. Kalo kamu pernah dengar, Investasi itu ke emas aja karena aman, inilah maksudnya.

Pada tahun 1929, Ekonomi Amerika tumbuh pesat. Produksi industri, konsumsi, dan pasar saham meningkat tajam. Tetapi produksi ini harus dikontrol dengan kebijakan moneter. Maka Bank Sentral, sebagai lembaga pengatur peredaran uang Amerika bernama Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga secara bertahap untuk mencegah gelembung dan inflasi. Uang beredar tetap dikontrol ketat karena negara masih menganut standar emas. Apa yang terjadi setelahnya. Produksi industri anjlok, Pengangguran melonjak, Harga-harga turun drastis (deflasi), Bank-bank gulung tikar, Banyak orang kehilangan rumah dan tabungan. Pemerintah Amerika, kala itu karena teguh pada standar emas, tak berani menerapkan kebijakan yang lebih realistis seperti Inggris. Yaitu meninggakan Standar Emas dan mencetak lebih banyak uang, menurunkan suku bunga, dan mendorong belanja serta investasi.

Inilah Paradoks Midas, sama seperti kisah si Raja Emas Itu. Ingin menjaga nilai uang tetap kuat, tapi malah mematikan ekonominya. Artinya, Emas semakin jauh dari Komoditas yang diwakilinya, baik itu Komoditas Riil maupun Uang Cetak sebagai komoditas itu sendiri. Apa dampaknya bagi orang banyak dalam bahasa sederhana. Perhatikan kisah berikut. Di sebuah desa makmur bernama Jolotundo, hidup warganya dalam kemakmuran. Mereka menggunakan emas murni sebagai alat tukar. Tidak ada barter, tidak ada utang – hanya emas yang diakui. Kepala desa, Pak Sum, percaya:

“Kalau semua transaksi pakai emas, maka tidak ada tipu-tipu. Stabil dan aman!” Warga pun patuh. Warung, bengkel, dokter, semua hanya terima emas batangan kecil. Beberapa warga menyarankan solusi: “Kenapa tidak pakai sistem utang, atau janji bayar nanti, seperti dulu zaman nenek moyang?”

Tapi Pak Sum menolak keras: “Itu tidak nyata! Uang harus berupa emas fisik. Janji? Kertas? Itu fiksi!”

Di sinilah muncul Paradoks Uang versi David Graeber, Graeber bilang, Uang pada dasarnya adalah sistem kepercayaan – bukan logam, tapi relasi sosial. Sebelum uang logam, orang sudah saling memberi, mencatat utang, dan percaya. Namun di kampung Jolotundo, orang melupakan bahwa uang itu sebenarnya kepercayaan. Mereka menolak utang, menolak janji, menolak fleksibilitas. Akibatnya: ekonomi ambruk bukan karena kurang emas, tapi karena hilangnya rasa percaya dan kemauan bertransaksi.

Seorang pemuda bernama David mulai menawarkan jasa tukang kayu dengan sistem utang sosial:

“Bayar nanti saja, kalau sudah panen.”

Awalnya ditertawakan. Tapi karena ekonomi lumpuh, akhirnya orang mulai menerima. Tukar-menukar kembali hidup, saling bantu kembali berjalan. Bahkan, dia membuat koin kayu sebagai tanda janji bayar — semua percaya karena David menepati janjinya. Melihat hal ini, akhirnya Pak Sum sadar:

“Mungkin kita terlalu lama mengira emas adalah segala-galanya. Padahal yang membuat ekonomi hidup bukan logam, tapi rasa percaya, harapan, dan fleksibilitas.” Ia pun menghapus aturan wajib emas, dan desa mulai mencetak uang berbasis kepercayaan: seperti cek, surat utang, bahkan sistem tabungan.  Ekonomi desa kembali bangkit.

Paradoks Emas, Uang dan Midas

Dalam sejarah ekonomi dunia, krisis tidak hanya terjadi karena kekurangan sumber daya, tetapi juga karena cara kita memahami dan memperlakukan uang. Dua pemikir ekonomi dengan pendekatan yang sangat berbeda – Scott Sumner, seorang monetaris, dan David Graeber, seorang antropolog anarkis – masing-masing menawarkan analisis mendalam tentang bagaimana krisis bisa terjadi bukan karena ketidakseimbangan fisik, tetapi karena kesalahan dalam pemaknaan uang dan kebijakan terhadapnya.

Di tengah badai Great Depression (1929–1939), kedua pandangan ini bisa kita padukan untuk memahami dua paradoks besar dalam sejarah uang dan kebijakan moneter: Paradoks Midas dan Paradoks Uang. Scott Sumner, dalam kerangka pemikiran monetaris, berargumen bahwa Great Depression bukanlah akibat dari krisis kapitalisme, melainkan dari kebijakan moneter yang salah.

Ia menciptakan istilah “Paradoks Midas”, merujuk pada kisah mitologis Raja Midas yang menginginkan segala yang disentuhnya menjadi emas – sebuah keinginan akan kekayaan dan stabilitas yang akhirnya menghancurkan hidupnya sendiri. Dalam konteks ekonomi, negara-negara di era 1930-an bersikeras mempertahankan nilai tukar mata uang terhadap emas (standar emas). Mereka percaya bahwa kestabilan moneter adalah landasan kepercayaan dan kekuatan ekonomi.

Namun, saat krisis menghantam dan permintaan uang melonjak, bank sentral tidak bisa mencetak lebih banyak uang tanpa melanggar “aturan emas”. Akibatnya: Uang beredar menyusut drastis, Harga-harga turun (deflasi), Utang menjadi lebih berat secara riil, Pengangguran melonjak, Investasi anjlok Summer menyebut ini sebagai “kutukan stabilitas”: ketika negara ingin mempertahankan nilai uang, mereka justru menghancurkan perekonomian nyata. Persis seperti Midas yang tidak bisa makan karena makanannya berubah menjadi emas.

David Graeber, dalam bukunya Debt: The First 5,000 Years, menawarkan pandangan radikal namun mendalam: uang bukanlah ciptaan negara atau hasil pertukaran, melainkan hasil hubungan sosial yang dibangun atas dasar utang dan janji.

Dalam sejarah awal masyarakat, uang bukan emas atau perak, tetapi catatan utang, janji, dan relasi kepercayaan. Masyarakat kuno tidak selalu menukar barang dengan barang (barter), tetapi menyimpan hubungan jangka panjang berbasis pada siapa yang berutang pada siapa. Uang sebagai logam hanya muncul ketika kekuasaan negara memerlukan cara standar untuk membayar tentara dan memungut pajak.

Paradoks yang ditunjukkan Graeber adalah, Semakin kita percaya bahwa uang harus nyata dan keras (emas, logam, angka tetap), semakin kita kehilangan kekuatan sejatinya: kepercayaan. Selama krisis, masyarakat yang menolak fleksibilitas dan bersikeras hanya menerima “uang keras” justru lumpuh. Di sisi lain, komunitas yang mau mempercayai utang, janji, dan bentuk uang alternatif (seperti barter, kredit lokal, uang komunitas) tetap bisa bertahan.

Kedua paradoks ini – Midas dan Uang – tampaknya berasal dari dua kutub pemikiran yang berbeda: satu dari ekonomi arus utama, satu dari antropologi radikal. Namun bila dipadukan, keduanya menyampaikan pesan yang sangat serupa  Terlalu kaku dalam memahami uang bisa membunuh ekonomi.  Fleksibilitas, kepercayaan, dan kemampuan beradaptasi jauh lebih penting saat menghadapi krisis.

Paradoks Midas menunjukkan bagaimana obsesi terhadap stabilitas nominal dan nilai logam justru menjerumuskan dunia ke dalam depresi. Paradoks Uang menunjukkan bahwa kepercayaan sosial dan utang sebagai fondasi ekonomi telah dilupakan demi mitos bahwa uang adalah benda yang harus selalu ada fisiknya.

Share This Article
Ajmal Fajar Sidiq adalah penulis yang sering berburu bintang
Leave a comment
Layanan Prima Taman Sains

Form Pendaftaran Kontributor Penulis tamansains.com