Salah satu momen bahagia orang tua adalah ketika sudah melihat anaknya bisa berjalan sendiri. Selain itu, ada momen lain dengan perasaan sama. Bahagia, takjub, heran dan mungkin tercengang. Momen ketika melihat si anak sudah bisa jajan sendiri. Biasanya, ini terlihat ketika masuk masa mudik keluarga dan libur panjang. Ketika anak diberikan sejumput uang dan ia mulai mengerti, dengan uang tersebut ia akan membelikan mainan atau makanan kesukaannya.
Meski kadang-kadang, momen itu hanya sementara. Setelahnya, orang tua pasti berpikir keras, bagaimana cara mengajarkan anak tentang fungsi uang selain jajan. Lazimnya, ketika anak tumbuh semakin dewasa, beberapa orang tua bahkan menyesal ketika tak mampu mengajarkan anaknya tentang cara menggunakan dengan uang baik dan kerap beberapa orang tua hanya mampu memberi titah larangan, “jangan jajan terus nanti bodoh”. Bagaimana sebetulnya cara yang baik memulai obrolan pada anak tentang ekonomi?.
Ini bukan formula yang pakem, tentu saja, tapi formula ini bisa jadi tema pembuka jika anda bingung dari pintu mana anak harus memahami ekonomi. Tema ini diperoleh dari seorang mantan Menteri Keuangan Yunani bernama Yanis Varoufakis. Yanis sebagai orang tua, mulanya bingung harus darimana menjelaskan Ekonomi pada anak perempuannya. Masalahnya, ia sangat sibuk dan sementara anaknya berada jauh dari jangkauannya. Yanis berada di Eropa sementara sang anak berada di Sidney. Salah satu kemungkinan yang bisa dilakukan, menurutnya adalah ia harus memberi penjelasan rinci sekaligus dalam satu pesan utuh. Ia berpikir itu semua hanya mungkin disampaikan melalui buku. Oleh karena itu, ia segera menulis buku berjudul, Talking to My Daughter About the Economy: or, How Capitalism Works—and How It Fails.
Sekilas jika kita hanya membaca dari judulnya, barangkali lekas terkejut karena topik pertama yang ingin disampaikan oleh Yanis justru Kapitalisme. Di Indonesia, kita tahu, Kapitalisme tak mungkin dikenal oleh pelajar sejak masa sekolah Umum. Mendengar namanya dari guru ekonomi dan atau sejarah pun mungkin mustahil. Tetapi Yanis merasa, menceritakan ekonomi pada sang anak tanpa menyinggung sejarah dan sistem yang berlaku pada hari ini justru akan menuai kegagalan. Menjelaskan ekonomi tanpa menjelaskan Kapitalisme, sama seperti berbusa-busa menerangkan pada kaum bumi datar jika bumi sesungguhnya bulat.
Menariknya Yanis tak langsung menjelaskan, Kapitalisme adalah, bla,bla,bla. Ia membuka penjelasannya dengan pengalaman yang paling dekat dengan anaknya. Rasa heran yang hampir dimiliki oleh setiap anak pada masa sekolah umum tentang ketimpangan. Anakku, pastilah kau merasa heran, jika pada masa sekolah umum, di kelas tiap anak tak semuanya sama. Seperti ada beberapa anak yang hanya memiliki gawai 2 ram, sementara di sudut bangku lain ada temanmu yang memiliki gawai IPhone. Yanis mulai menjelaskan, darimana asal usul ketimpangan ini. Bukan berdasarkan pada moral, karena orang tua yang satu lebih malas dan yang lain lebih rajin bekerja sehingga mereka terlihat berbeda. Ia menjelaskan mula-mula melalui sejarah.
Ketimpangan, diterangkan Yanis pada anaknya mula-mula lahir ketika manusia mengenal surplus. Surplus adalah kata untuk menjelaskan, hasil kerja kita yang disimpan untuk masa-masa mendatang. Misalnya, jika ada petani menanam wortel sejumlah 1 kg dengan perkiraan itu cukup untuk hidup selama sebulan penuh, ia tak hanya menanam 1 kg. Hasil panennya menunjukkan, jika wortel yang ditanam sampai pada jumlah 10 Kg. Dengan kata lain, ia memiliki produk lebih sebanyak 9 kg. Tetapi itu dilakukan dengan sengaja, karena Petani itu sadar, bulan mendatang akan ada badai dan tak mungkin menanam wortel di masa itu, kecuali si petani ingin menanam benih yang sia-sia. Inilah yang disebut surplus dan itu terjadi pada masa Agrikultur (Budaya Cocok Tanam) pertama kali hadir.
Setelah membukanya melalui Surplus, ia bercerita lebih tentang mengapa Surplus lebih banyak hadir di Agrikultur yang tumbuh di daerah-daerah yang iklimnya cenderung stabil. Ia membandingkan dengan Aborigin yang cara hidupnya sama sekali lain dengan orang Eropa. Ia mengambil contoh Aborigin, karena letak tempat tinggal anaknya kini di Australia. Lalu mengapa ada wilayah lain yang cenderung lebih makmur, dan yang lain tidak. Penjelasan ini ia jelaskan pelan-pelan dari Budaya Agrikultur, berlanjut ke perkembangan daerah-daerah lain yang mengadopsi Agrikultur. Sampai pada tahap berikutnya, kehidupan yang tak lagi nomaden melahirkan Kredit, Uang dan Utang, lalu Negara.
Topik ini sangat sederhana tapi mampu menjelaskan banyak hal pada anak. Yanis menjelaskan, tahap demi tahap kelahiran semua komponen yang menopang kehidupan ekonomi hari ini. Apa yang menjadikan buku ini layak, adalah anak tak diajarkan segera bagaimana mengelola uang, tapi lebih jauh buku ini mampu memberikan anak pandangan dari mana asal mula uang. Sehingga, pemahamannya cenderung rinci dan tak hanya sekedar menjelaskan, Hemat Pangkal Kaya sebagaimana yang diajarkan di sekolah dasar.
Baca Selengkapnya dalam:
https://imp.dayawisesa.com/wp-content/uploads/2023/07/Talking-to-My-Daught…-by-Yanis-Varoufakis-Ja.pdf




