Perkembangan teknologi saat ini berlangsung sangat pesat dan memengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia. Masyarakat modern memanfaatkan teknologi untuk mempermudah pekerjaan dan mempercepat akses informasi. Kemajuan teknologi tersebut memberikan kemudahan bagi manusia dalam menjalankan aktivitas sehari-hari serta mengubah cara individu berinteraksi dan belajar (Redecker & Punie, 2017).
Kemajuan teknologi informasi, khususnya internet dan media sosial, menyediakan berbagai informasi secara cepat dan luas. Pengguna memperoleh informasi dengan mudah melalui perangkat digital. Namun, kondisi tersebut membuat sebagian individu menerima informasi tanpa melakukan analisis yang mendalam. Kebiasaan ini dapat menurunkan kemampuan individu dalam mengevaluasi kebenaran informasi (Nicholas et al., 2017; Sudianto et al., 2024).
Selain itu, penggunaan teknologi yang berlebihan memengaruhi kemampuan individu dalam memecahkan masalah. Banyak pelajar menggunakan mesin pencari untuk menyelesaikan tugas sekolah. Pelajar tersebut sering mengandalkan jawaban instan tanpa memahami konsep secara menyeluruh. Kebiasaan ini menghambat perkembangan daya pikir kritis karena pelajar tidak melatih kemampuan analisis secara mandiri (Cynthia & Sihotang, 2023; Putri et al., 2024).
Di sisi lain, teknologi juga memiliki potensi untuk meningkatkan daya pikir kritis jika pengguna memanfaatkannya secara tepat. Guru dapat menggunakan teknologi sebagai media pembelajaran interaktif di kelas. Misalnya, guru dapat memberikan tugas berupa analisis kasus atau diskusi daring kepada siswa. Metode tersebut mampu mendorong siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis secara aktif melalui literasi digital yang baik (Husaeni et al., 2023; Wijayanti et al., 2024).
Oleh karena itu, semua pihak perlu menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab. Orang tua dan guru perlu membimbing siswa dalam memanfaatkan teknologi secara tepat. Pengguna harus menyaring informasi sebelum menerima dan menyebarkannya. Kemampuan literasi digital menjadi sangat penting dalam menghadapi arus informasi yang semakin kompleks dan beragam (Bakti et al., 2024; Cahyani et al., 2024).
Dengan demikian, teknologi tidak selalu menurunkan daya pikir kritis jika manusia menggunakannya secara bijak. Manusia dapat menjadikan teknologi sebagai alat untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Pemanfaatan teknologi yang tepat akan menghasilkan generasi yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab.
Daftar Referensi:
Bakti, A., et al. (2024). Peran literasi digital dalam meningkatkan berpikir kritis mahasiswa di era Society 5.0. Jerkin. https://doi.org/10.31004/jerkin.v4i2.3166
Cahyani, N., et al. (2024). Berpikir kritis melalui membaca: Pentingnya literasi dalam era digital. IJEDR, 2(1), 417–422. https://doi.org/10.57235/ijedr.v2i1.1795
Cynthia, R. E., & Sihotang, H. (2023). Pentingnya literasi digital untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Jurnal Pendidikan Tambusai, 7(3). https://doi.org/10.31004/jptam.v7i3.12179
Husaeni, A. S., Hidayat, R., & Khadijah, I. (2023). Peran literasi digital terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 6(11), 8913–8918. https://doi.org/10.54371/jiip.v6i11.2697
Nicholas, D., et al. (2017). Early career researchers and their publishing and authorship practices. Learned Publishing, 30(3), 205–217. https://doi.org/10.1002/leap.1102
Putri, M., et al. (2024). Pengaruh literasi digital terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Jurnal Pendas. https://doi.org/10.23969/jp.v10i03.33081
Redecker, C., & Punie, Y. (2017). European framework for the digital competence of educators. European Commission. https://doi.org/10.2760/159770
Sudianto, R., et al. (2024). Analisis literasi digital dan berpikir kritis mahasiswa. Leksikon. https://doi.org/10.59632/leksikon.v3i2.476
Wijayanti, S. F., et al. (2024). Strategi literasi digital sebagai sarana penguatan berpikir kritis. JIEPP. https://doi.org/10.54371/jiepp.v5i1.654




