Tahun 2003, di Inggris, ada sebuah pertanyaan besar yang mengusik dunia pendidikan kesehatan jiwa:
“Apakah pendidikan kesehatan jiwa yang diberikan kepada tenaga profesional benar-benar berkualitas? Apakah sudah sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dan—yang paling penting—apakah suara pasien serta keluarganya sudah dilibatkan?”
Pertanyaan ini dijawab secara serius oleh dua peneliti dari University of Lincoln: C. Brooker dan J. Curran. Mereka melakukan studi lapangan intensif selama satu tahun—dari September 2003 hingga September 2004—dan hasilnya dipublikasikan tahun 2006 dalam jurnal Journal of Interprofessional Care.
Mereka membawa sebuah alat sederhana yang menjadi jantung penelitian ini:
The National Continuous Quality Improvement Tool—sebuah alat bantu untuk mengevaluasi kualitas program pendidikan mental health secara menyeluruh.
Metodenya?
Mereka menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif:
Mereka melakukan observasi langsung ke ruang kelas dan rumah sakit
Melakukan wawancara semi-terstruktur dengan dosen, mahasiswa, pasien, dan pemangku kepentingan
Mengadakan diskusi kelompok
Dan mengumpulkan skor penilaian mandiri dari 29 program di 15 wilayah Inggris
Lalu, apa saja hasil yang mereka temukan?
Mari kita ceritakan seperti kisah nyata…
Bayangkan kamu sedang mengikuti pelatihan menjadi petugas kesehatan jiwa. Kamu duduk di kelas, mendengarkan dosen berbicara soal depresi dan kecemasan. Tapi tidak ada satu pun pasien yang pernah diundang untuk berbagi cerita hidupnya. Tidak ada orang tua atau keluarga yang diundang untuk menceritakan bagaimana beratnya merawat anggota keluarga yang mengidap skizofrenia.
Nah, itulah kenyataan yang ditemukan oleh Brooker dan Curran.
Mereka menemukan bahwa sebagian besar program pendidikan sudah relevan secara teori—dengan kebijakan nasional, bahkan mengikuti standar profesional terbaru. Tapi, relevansi tidak selalu berarti realitas.
Relevansi program terhadap kebijakan mendapat nilai tinggi. Banyak dosen yang aktif mengikuti pelatihan dan terlibat dalam forum kebijakan. Bahkan beberapa program menggunakan kerangka kerja seperti Capable Practitioner Framework untuk menyusun kurikulum.
Tapi ketika mereka masuk ke pertanyaan:
“Apakah pasien dilibatkan?”
Ceritanya mulai berubah.
Di beberapa program, Brooker dan Curran menemukan hal yang luar biasa. Ada yang mengundang mantan pasien untuk menjadi pembicara. Bahkan ada pasien yang dilatih untuk menilai presentasi mahasiswa, memberi masukan langsung:
“Kalau kamu jadi konselor saya, saya akan merasa nyaman atau tidak?”
Itulah penilaian paling jujur dari seseorang yang tahu bagaimana rasanya duduk di kursi pasien.
Namun sayangnya, tidak semua program seprogresif itu. Masih banyak yang melibatkan pasien hanya sebagai “pemanis”—sekadar mengisi satu sesi testimoni, tanpa keterlibatan dalam merancang program atau mengevaluasi dampaknya.
Bagaimana dengan keluarga pasien?
Di sinilah cerita paling pilu.
Hampir semua program tidak melibatkan keluarga sama sekali. Keluarga, yang setiap hari mendampingi pasien, memantau perkembangan, menjadi perawat informal—justru tidak dianggap penting dalam proses pendidikan. Median skor untuk keterlibatan mereka: rendah sekali.
Tapi ada satu kisah pengecualian yang menghangatkan hati.
Sebuah program di Inggris menggandeng organisasi bernama Making Space—komunitas pendukung keluarga pasien gangguan jiwa. Mereka dilibatkan sejak awal: menyusun kurikulum, ikut mengajar, bahkan ikut mengevaluasi hasil belajar mahasiswa.
Bagian terakhir dari evaluasi: apakah program ini berdampak nyata?
Jawabannya? Masih setengah-setengah.
Banyak program memang punya semangat—mereka menilai kemampuan mahasiswa, mencatat progres mereka di lapangan, dan mengumpulkan umpan balik. Tapi hanya sedikit yang benar-benar mengukur dampak jangka panjangnya:
Apakah lulusan mereka benar-benar mampu menghadapi pasien dengan empati? Apakah pendekatan mereka berubah setelah mendengar suara pasien?
Dalam laporan akhirnya, Brooker dan Curran membuat rangkuman menarik:
| Jenis Program | Relevansi | Suara Pasien | Suara Keluarga | Dampak |
|---|---|---|---|---|
| Pelatihan Lulusan Baru | Tinggi | Tinggi | Rendah | Sedang |
| Pendidikan Profesi | Tinggi | Sedang | Rendah | Sedang |
| Pendidikan Lanjutan | Sedang | Rendah | Rendah | Sedang |
| Pelatihan dari Rumah Sakit | Tinggi | Sedang | Sedang | Sedang |
Kesimpulan mereka sederhana tapi penting:
Kualitas pendidikan kesehatan jiwa bukan hanya diukur dari isi modul dan silabus, tapi dari sejauh mana program tersebut menyentuh realitas orang-orang yang mengalami gangguan jiwa—dan orang-orang yang hidup bersama mereka.
Pertanyaannya sekarang:
Bagaimana dengan kita di Indonesia?
Apakah pendidikan keperawatan, psikologi, dan psikiatri di negeri ini sudah menempatkan pasien dan keluarganya sebagai rekan sejajar dalam proses belajar?
Mungkin inilah saatnya kita belajar dari cerita di Inggris—dan menjadikan pendidikan kesehatan jiwa sebagai ruang yang lebih inklusif, empatik, dan berdampak nyata.
Referensi:
Brooker, C., & Curran, J. (2006). The National Continuous Quality Improvement Tool for Mental Health Education: Results of Targeted and Supported Implementation in England. Journal of Interprofessional Care, 20(3), 276–289.
Metode penelitian:
Studi dilakukan selama 1 tahun (2003–2004)
Melibatkan 29 program pendidikan mental health
Menggunakan observasi langsung, wawancara semi-terstruktur, diskusi kelompok, dan penilaian mandiri
Data dianalisis dengan tematik kualitatif dan penilaian kuantitatif melalui skor penilaian program




