Apa Jadinya Jika Perang Dunia 3? Sebuah Cerita dari Simulasi Sains

Lalu Nurcholis Husnu
5 Min Read
Image Created by Google Gemini

Bayangkan Anda terbangun di suatu pagi dan mendapati koneksi internet di seluruh dunia terputus. Ponsel Anda tidak menerima sinyal, siaran televisi mendadak statis, dan di kejauhan, sirine tanda bahaya mulai meraung. Bukan karena bencana alam, melainkan karena sebuah miskomunikasi geopolitik di belahan dunia lain telah memicu rantai serangan yang tak bisa dihentikan.

Pertanyaan besarnya adalah: “Jika Perang Dunia 3 benar-benar pecah hari ini, seberapa cepat dunia akan hancur, dan apa yang tersisa bagi kita?”

Pertanyaan mengerikan ini bukan sekadar naskah film Hollywood. Para peneliti dari Princeton University’s Science and Global Security (SGS) telah mencoba menjawabnya melalui sebuah simulasi yang mereka beri nama “Plan A”. Selain itu, pakar geopolitik dari Harvard, Graham Allison, memberikan peringatan keras melalui konsepnya yang terkenal: Thucydides Trap.

Mari kita bedah skenarionya seperti sebuah rangkaian peristiwa nyata yang semoga tidak jadi nyata…

1. Tahap Pertama: Detik-Detik Menuju Kehancuran

Menurut simulasi Plan A, perang dunia modern tidak akan dimulai dengan prajurit yang berbaris di perbatasan, melainkan dengan serangan nuklir taktis. Simulasi ini menggambarkan bagaimana konflik di Eropa bisa meledak hanya dalam hitungan jam.

  • Menit ke-1 hingga ke-180: Rusia dan NATO mulai saling serang menggunakan senjata nuklir jarak pendek.

  • Dampaknya? Sekitar 2,6 juta orang akan tewas atau terluka dalam 3 jam pertama.

Namun, ini baru permulaan. Begitu ambang batas nuklir terlewati, “kegilaan” yang sesungguhnya dimulai. Senjata nuklir strategis—yang ribuan kali lebih kuat dari bom Hiroshima—akan dilepaskan dari kapal selam dan silo bawah tanah.

2. Tahap Kedua: Ketika Dunia Gelap Gulita

Jika Anda berpikir Perang Dunia 3 hanya soal ledakan, Anda keliru. Pakar keamanan siber mengingatkan bahwa “perang pertama” akan terjadi di ruang digital.

Bayangkan jika infrastruktur listrik nasional lumpuh, sistem perbankan terhapus, dan satelit GPS dimatikan. Tanpa navigasi, kapal logistik pembawa bahan pangan akan terombang-ambing di laut. Dalam waktu singkat, kelaparan massal akan menjadi ancaman yang lebih mematikan daripada ledakan bom itu sendiri.

3. Pelajaran dari Sejarah (Thucydides Trap)

Mengapa kita seolah “hobi” menuju perang? Graham Allison dalam bukunya Destined for War menjelaskan bahwa secara historis, ketika kekuatan baru (seperti China) mulai menantang kekuatan lama (seperti Amerika Serikat), perang hampir selalu terjadi.

Dari 16 kasus serupa dalam 500 tahun terakhir, 12 di antaranya berakhir dengan perang besar. Allison mengingatkan bahwa Perang Dunia 3 bisa pecah bukan karena ada negara yang haus perang, melainkan akibat rasa tidak aman yang berlebihan di antara para pemimpin dunia. Kita bisa melihat manifestasi kekhawatiran ini pada dinamika geopolitik terkini; misalnya, ambisi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terhadap Greenland. Ketertarikan strategis ini bukan sekadar soal wilayah, melainkan upaya mengamankan posisi geografis demi membendung pengaruh Rusia di Arktik—sebuah langkah ‘catur’ yang justru berisiko memperuncing persetegangan global.

Perbandingan Dampak: Dari Masa Lalu ke Masa Depan

IndikatorPerang Dunia IPerang Dunia IIPrediksi Perang Dunia III
Durasi4 Tahun6 TahunBeberapa Minggu (Eskalasi Cepat)
Senjata UtamaParit & Gas KimiaPesawat & TankNuklir & Siber
Korban Jiwa~20 Juta~75 Juta>90 Juta (Dalam hitungan jam)
Sistem UtamaTelegrafRadioInternet & Satelit

Lalu, Bagaimana dengan Indonesia?

Di tengah carut-marut ini, di mana posisi kita? Berdasarkan berbagai analisis pertahanan, posisi geografis Indonesia yang berada di jalur perdagangan utama (ALKI) menjadikannya rentan sekaligus strategis.

Indonesia memiliki kebijakan Luar Negeri Bebas-Aktif, yang secara teori bisa membuat kita tetap netral. Namun, secara ekonomi, Indonesia sangat bergantung pada impor pangan dan energi, meski katanya kita sudah swasembada pangan dan katanya juga kita sedang menuju hilirisasi. Jika rantai pasok global terputus akibat perang, harga kebutuhan pokok di pasar lokal bisa melonjak ribuan persen.

Pertanyaannya sekarang:

Apakah kita sudah cukup mandiri untuk bertahan jika dunia di sekitar kita runtuh?

Mungkin inilah saatnya kita berhenti melihat perang sebagai cerita di buku sejarah atau layar kaca, dan mulai memperkuat ketahanan pangan serta kemandirian teknologi dalam negeri sebagai bentuk pertahanan yang nyata.

Daftar Referensi:

Share This Article
Lalu Nurcholis Husnu yang kerap disapa LALU ini merupakan salah satu makhluk hidup langka di dunia yang akan terus tumbuh dan berkembang di era digital.
Leave a comment
Layanan Prima Taman Sains

Form Pendaftaran Kontributor Penulis tamansains.com