Jangan suka gelap-gelapan! Frasa ini lazim terdengar di sub kultur perkotaan untuk menggambarkan, “gelap berarti liar”. Terkadang, ini berarti pula jika anda masuk ke dalam wilayah gekap, yang anda lakukan pastilah aktivitas tak senonoh. Hanya saja, barangkali frasa ini baru muncul pada masa modern yang ditandai dengan adanya fenomena elektrifikasi – terhubungnya jejaring listrik khususnya penerangan ke wilayah-wilayah terpencil. Tetapi, sejarah menceritakan hal lain, sejarah menceritakan ada banyak penemuan ajaib yang lahir karena gelap-gelapan.
Dalam mitologi Yunani, tersebut nama seorang Dewa bernama Nyx. Ia seorang penguasa malam yang lahir dari kekacauan (chaos), Melalui kekuatannya, siapapun yang keluar di waktu malam akan menemui monster menakutkan dan dalam beberapa kasus akan membuat seseorang tewas mencekam. Tapi selepas kekacauan berakhir, seperti dalam kisah umum Mitologi Yunani, niscaya ia akan melahirkan jenis kelahiran baru. Kelahiran yang menyumbang keindahan pada dunia.
Bukan kebetulan, seperti yang diungkapkan oleh Carl Sagan dalam bukunya Cosmos, nenek moyang kita adalah pengamat langit yang ulung dan bahwa kita semua “berasal dari bintang“. Malam meski menakutkan dan gelap, sering menjadi sumber kelahiran ilmu pengetahuan bagi manusia. Teknologi berlayar, siklus musim tanam-panen, teknologi berburu dan begitupula api lahir pada malam hari. Bayangkan pada masa ketika langit belum penuh polusi udara, bagaimana suar cahaya malam terlihat jauh lebih terang dibanding hari ini.
Malam dan Gelap ini yang melahirkan Kosmologi Yunani Kuno, Ilmu Astrologi pada masa Keemasan Islam, dan Ilmu Astronomi Modern. Dengan kata lain, beberapa fisikawan sebetulnya menyukai gelap-gelapan. Werner Heisenberg, Fisikawan Jerman yang mencetuskan Prinsip Ketidakpastian dalam Dunia Kuantum, atas ketakjubannya pada langit malam memuja lukisan Starry Night dan merasa dalam lukisan itu ia merasakan kekuatan semesta yang dahsyat. Selain ketakjuban pada Gelap Malam, bahkan Fisikawan sejak abad 19 awal hingga hari ini terkesima dengan Gelap sebagai Materi. Materi Gelap (Dark Matter).
Fritz Zwick, salah seorang Fisikawan yang bertahun-tahun kemudian sejak penemuannya pada Materi Gelap pada tahun 1993 mengilhami banyak penelitian Dark Matter adalah seorang yang selalu takjub pada gelap. Rasa takjub itu membawanya pada penemuan kondisi ledakan bintang yang ia sebut sebagai Supernova. Ketika banyak orang takjub pada penemuan Relativitas Umum Einstein, Zwicky justru memikirkan Neutron dalam tubuh bintang. Pada masa bintang mulai terbentuk, Zwicky berpendapat jika ada jenis bintang yang muatan materi Neutronnya benar-benar padat. Ketika bintang ini meledak, ledakannya mencapai 3 kali lipat kekuatan Matahari pada tata surya kita dan memancarkan suar kosmik yang dahsyat.
Teori ini tetap berasal dari Relativitas Umum Einstein. Ia memikirkan jika Materi, mendistorsi materi dan ruang waktu, dan dalam konteks cahaya bahkan ia membuat lajunya melengkung. Cahaya, kita tahu, bukanlah benda bermassa diam tetapi disusun oleh foton. Melengkungnya cahaya akibat gravitasi, memberi pengaruh besar pada pertunjukkan ledakan bintang besar sehingga kita dapat menemukan titik ledakan bintang tersebut. Tanpa adanya pembelokkan cahaya dan pemahaman jika cahaya dibelokkan oleh gravitasi, barangkali Supernova belum akan ditemukan. Seperti yang dikatakan fisikawan Amerika John Wheeler, “Ruang-waktu memberi tahu materi bagaimana bergerak; materi memberi tahu ruang-waktu bagaimana melengkung
Berbekal rasa suka terhadap gelap, Zwick curiga jika Supernova dan suar kosmik tak hanya dipengaruhi oleh Gravitasi, melainkan sesuatu yang tak tampak di ruang waktu. Ia memberi nama pada jenis materi ini, yaitu gelap. Materi Gelap. Bagian inilah yang menarik dari Zwick, ia sebagai seorang Astronom yang cenderung pendiam justru menjadi pemerhati rinci tentang gelap. Pada tahun-tahun ketika ia menulis Supernova, sebagai seorang yang didaku kreatif sebagai individu oleh rekan kerjanya, ia meneliti gugus galaksi Coma pada tahun 1933. Ketika ia melihat gugus ini, ia merasa anomali gravitasi terjadi di sekitar Gugus Coma, tapi ini bukan sekedar lengkungan gravitasi. Ada sumber materi lain yang menyebabkan gravitasi, yaitu Materi Gelap yang mengganggu kelengkungan ruang waktu. Meski temuannya tak begitu dianggap penting, bertahun-tahun kemudian ia menganggap jika komposisi semesta sesungguhnya 27 persen adalah materi gelap dan 68 persen energi gelap, menyisakan hanya sekitar 5 persen sebagai segala sesuatu yang kita amati secara langsung. Beberapa fisikawan menanggap Ini adalah masalah besar dan setelahnya, ada banyak fisikawan lebih suka gelap-gelapan
Banyak fisikawan menduga materi gelap sama mahahadirnya dengan sifatnya yang menyendiri. Jika mereka dapat menemukan cukup cara untuk merasakan hal yang tak kasatmata—seperti memeriksa apakah materi gelap menggelitik berbagai jenis detektor, atau apakah materi gelap menyentuh cahaya bintang, menghangatkan inti planet, atau bahkan bersarang di bebatuan—pengaruhnya yang samar dapat muncul di mana saja.
Baca Selengkapnya dalam:
https://www.goodreads.com/book/show/51312593-dark-matter-and-dark-energy




