Rasa penasaran mendorong manusia menembus batas-batas imajinernya. Seperti seekor kelomang, rasa penasaran membawa manusia keluar dari cangkangnya dan mencari cangkang yang lebih besar untuk melindungi tubuh mereka. Bedanya, rasa penasaran mendorong manusia mencari cangkang yang lebih besar untuk memuat pengetahuan-pengetahuan baru. Sekira pada kurun tahun 1150 – 1750, di Bumi bagian Utara, yaitu Eropa dan sekitarnya cangkang ini dihiasi dengan keajaiban (miracolous).
Pada tahun 1210, Gervase dari Tilbury, seorang Bangsawan Inggris sekaligus penasihat kekaisaran menulis bahwa keajaiban adalah hasil dari proyeksi emosi manusia yang melahirkan hal-hal baru. Hal-hal yang belum pernah dikenali sebelumnya oleh orang itu. Ia menambahkan juga, jika keajaiban selalu relatif terhadap yang melihatnya; Apa yang baru bagi satu orang mungkin akrab bagi orang lain, dan apa yang misterius bagi seseorang mungkin sudah diketahui orang lain.
Mari lihat beberapa temuan berikut. Gervase yang telah berkelana ke Eropa, kawasan Mediterania dan bahkan India pernah menyusun katalog berisi 129 keajaiban dari tiap-tiap daerah. Salah satu temuannya yang berada pada susunan teratas, misalnya adalah magnet. Gervase, di tempat ia tumbuh dewasa, mulanya belum pernah sedikitpun melihat jenis benda yang mampu menarik besi. Namun ketika ia menemukan benda itu dan bernama magnet, ia segera memasukkannya dalam katalog. Baginya, itulah hal ajaib. Hal yang tak akrab ia temui dan membuat emosinya membuncah seolah menemukan harta karun.
Magnet hanya sekian benda yang dianggap ajaib pada masa itu. Selain benda, keajaiban pada abad pertengahan juga menjalar pada banyak hal. Karya seni, mulai dari alat musik sampai lukisan, peristiwa-peristiwa besar, gambaran hewan-hewan cerdas dan sebagainya. Yang jelas, pada kurun abad pertengahan banyak keajaiban yang ditukar lintas benua melalui pelayaran. Selain itu, Gervase juga mencatat orang-orang yang hidup pada abad pertengahan pastilah memiliki pemahaman tentang apa yang ajaib bersumber dari fenomena mencengangkan yang belum diketahui sebabnya, seperti alasan mengapa lumba-lumba sering melompat-lompat di lautan.
Dorongan akan rasa takjub yang mendorong rasa penasaran keluar dari cangkangnya, menjadi sumbu utama kemajuan pengetahuan. Beberapa rasa penasaran dan takjub yang tak bisa dijelaskan, di abad pertengahan bahkan dialihkan menjadi wahana penciptaan makhluk-makhluk aneh. Kamu pernah mendengar kisah Naga? Jika ya, kisah naga sebetulnya muncul pada masa Abad Pertengahan sekitar kurun waktu abad 11 – 17, meskipun hingga hari ini dimana letak awal mula kisah itu muncul tak diketahui. Naga tak lain adalah, efek proyeksi dari rasa penasaran yang mewujud dalam cangkang makhluk khayali.
Penulis terkenal asal Amerika, Jorge Luis Borges bersama temannya Margarita Guerrero berusaha mendata jenis-jenis makhluk khayali yang lahir pada Abad Pertengahan. Hasilnya menakjubkan, sebanyak 100 lebih jenis makhluk khayali lahir pada abad pertengahan. Tentang Naga, Borges menulis, Kita sama bodohnya dengan makna naga sebagaimana kita tidak tahu makna alam semesta, tetapi ada sesuatu dalam citra naga yang memikat imajinasi manusia, sehingga kita menemukan naga di tempat dan waktu yang sangat berbeda. Naga, bisa dibilang, adalah monster yang penting , bukan monster yang fana atau kebetulan, seperti chimera berkepala tiga atau catoblepas.
Dalam buku Wonders and the Order of Nature 1150-1750 yang ditulis oleh Lorraine Daston dan Katharine Park dijelaskan jika rasa penasaran manusia pada kurun tersebut, menciptakan beberapa pola. Pembuatan peta-peta yang beragam, bukan hanya peta berisi nama daerah melainkan lenkap beserta nama makhluk khayali lahir pada masa ini dan semuanya bukan fiksi ilmiah, melainkan itu hidup di tengah masyarakat dimana hewan tersebut ditandai. Misalnya, seperti dimana letak pemukiman naga, burung phoenix dan lumba-lumba. Selain pola pemetaan, rasa penasaran ini juga diletakkan dalam beberapa catatan, seperti peristiwa-peristiwa aneh yang terjadi (letusan gunung berapi), wabah, karya-karya seni barok dan sebagainya.
Rasa penasaran membuat orang keluar dari cangkangnya dan takjub pada keajaiban (miracle). Pada masa modern, semua bentuk keajaiban ini lebih banyak diltekkan dalam satu ruangan yang biasa disebut museum. Hanya saja, pada masa segala belum dimuseumkan, setiap objek yang mendorong rasa penasaran dan takjub sebetulnya menjadi cangkang tiap perubahan pemahaman manusia terhadap pengetahuan. Bukan kebetulan bila patahan candi, arca dan artefak lain hilang dan tiba-tiba ditemukan di Eropa, karena ada masa tertentu orang-orang Eropa menjadikan patahan ini sebagai sumber penyelidikan pengetahuan. Bukan kebetulan pula, bila tokoh evolusionis ternama Alfred Russel Wallace menemukan cangkang evolusinya di Perairan Indonesia.
Keajaiban yang ditimbulkannya bergaung pada kejayaan sains yang menjelaskannya atau teknologi yang menciptakannya, yang diterjemahkan menjadi dukungan populer bagi sains dan teknologi. Pada hari ini, mungkin wujud itu banyak bisa dilihat melalui NASA sebagai sumber keajaiban ilmiah dan teknologi, mungkin satu-satunya lembaga pemerintah yang pernah menerima sumbangan sukarela. Betapapun berlimpahnya sumber rasa penasraran dan pengetahuan, barangkali, hanya satu atau dua ilmuwan (Newton dan Einstein) yang telah menguasai keajaiban penuh rasa takjub. Seperti Einstein, para ilmuwan mungkin menjadi pemandu publik untuk keajaiban alam, tetapi tabu profesional mencegah mereka mengklaim, bersama Cardano, sebagai keajaiban terbesar di zaman mereka.
Baca Selengkapnya dalam:




