Islam, Ekologi, dan Sosialisme: Membaca Gerakan FNKSDA

Ns. Khadijah
3 Min Read
Sumber foto: Freepik.com

Gerakan FNKSDA (Front Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam) lahir pada 2013 sebagai upaya kaum santri dan aktivis Nahdlatul Ulama (NU) untuk merespons krisis lingkungan dan agraria. Mereka kritis terhadap sikap NU yang dinilai terlalu permisif terhadap industri ekstraktif yang merusak tanah dan ekologi lokal 

Kesejajaran Islam dan Sosialisme

FNKSDA menempatkan ideologi sosialisme anti-kapitalis dalam bingkai etika Islam. Menurut tokoh seperti Muhammad Al-Fayyadl, perjuangan ini adalah “Socialist Islam dan Islamic Socialism” gabungan antara nilai-nilai agama dan kritik terhadap kapitalisme. Landasan ini diperkuat dalam “Pesantren Agraria”, sekolah kader yang mengajarkan ekonomi politik, krisis ekologis, dan literatur Islam kiri.

Menghadapi Kapitalisme Ekstraktif

Aktivitas FNKSDA banyak tertuju pada penolakan pertambangan ilegal, pabrik semen, dan kerusakan lingkungan di berbagai daerah. Salah satu kasus terkenal adalah di Wadas, Jawa Tengah. Di sana, warga dan aktivis FNKSDA menolak proyek tambang batu untuk bendungan. Mereka mengadvokasi agar masyarakat tidak digusur dan menjaga tradisi agraris seperti Nyadran tetap hidup. Proyek demikian dianggap bukan hanya merusak alam, tetapi juga mengancam spiritual dan sosial komunitas tani.

Dimensi Spiritual Lingkungan

FNKSDA menyadari bahwa hubungan umat Islam tidak hanya antar-manusia (ḥablun min an-nās) atau antara manusia dengan Tuhan (ḥablun min Allāh), tetapi juga dengan alam (ḥablun min al-’ālam). Mereka meminjam konsep dari Al-Qur’an yang mengecam kerusakan di bumi (fitnah / fasād) dan menganjurkan menjaga keseimbangan (mizan) serta amanah khalifah manusia terhadap alam.

Peran Perempuan dan Keadilan Gender

Gerakan ini juga menyertakan elemen feminisme Islam dalam perjuangan ekologisnya. Perempuan seperti kelompok “Wadon Wadas” memainkan peran sentral dalam perlawanan terhadap penambangan. Di forum nasional FNKSDA, Ayu Rikza terpilih sebagai koordinator nasional. Ia menegaskan bahwa seluruh aksi—baik produktif maupun reproduktif—adalah bagian dari perjuangan anti-kapitalis.

Mengapa Penting?

  • Sinergi Islam dan Sosialisme: FNKSDA membuka wacana baru dengan menghadirkan pendekatan ekologis berbasis Islam kiri yang sebelumnya minor sebagai kontribusi nyata terhadap aktivisme ekologis dan agraria di Indonesia .
  • Praktik dari Bawah: Aksi mereka bukan hanya simbolik, tetapi nyata mendampingi masyarakat lokal dalam konflik agraria, serta merintis pendidikan dan advokasi berbasis agama dan ekonomi politik.
  • Memperluas Definisi Jihad: Bagi FNKSDA, jihad kini bukan hanya soal militer atau spiritual, tetapi juga perjuangan menjaga bumi dari kapitalisme yang menindas dan merusak.

Secara garis besar, FNKSDA menghadirkan gerakan lingkungan yang berpijak pada tradisi Islam NU sekaligus kritik sosial-marxis. Ini menjelaskan bahwa dialog antara agama dan sosialisme bisa menjadi basis yang kuat untuk memperjuangkan keadilan ekologis, agraria, serta kekayaan spiritual dan budaya masyarakat.

Ingin hasil penelitianmu menjangkau lebih banyak pembaca? Ubah jadi artikel populer bersama kami! Langsung hubungi +62 812-1331-1998 sekarang juga!

Lebih lengkapnya baca

  • Yanuar Ramadhan, I., Ganjar Herdiansyah, A. ., Al Banjari, H., & Hidayat , M. (2025). Islamic Leftist and Ecological Resistance in the Nahdliyyin Front for Resource Sovereignty. MUHARRIK: Jurnal Dakwah Dan Sosial8(1), 105–121. https://doi.org/10.37680/muharrik.v8i1.7092

Share This Article
Leave a comment
Layanan Prima Taman Sains

Form Pendaftaran Kontributor Penulis tamansains.com