Bayangkan ketika membaca tulisan ini hari sudah malam, lalu ibumu menyuruh kalian segera tidur. Maksud dari kalian, adalah kau dan adik-adikmu. Sebelum tiba di kamar, anda melihat Gibran, adik Anda sedang telentang di Sofa , matanya tertutup dan kepalanya miring terkulai ke salah satu sisi. Adikmu yang lain, Kustang tiba-tiba menyentuh pundakmu dan berkata, “Jalannya pelan-pelan, Gibran sedang tertidur”. Kamu tiba-tiba bengong, melihat Gibran dan tiba-tiba mengiyakan keterangan Kustang bahwa Gibran sedang tidur. Tapi bagaimana caramu mengetahui Gibran benar-benar tidur. Dengan kondisi mata tertutup dan kepala terkulai, bukankah bisa jadi Gibran tak tertidur, melainkan koma dan mungkin sudah meninggal? Bagaimana tepatnya, anda bisa menebak Gibran benar-benar tertidur.
Mudah, anda bisa mengatakan bangunkan saja, keplak kepalanya, jika matanya terbuka lalu ia segera duduk, maka dapat dipastikan Gibran benar tertidur. Tapi ada beberapa cara lain untuk melihat bapakah Gibran tidur atau Mati. Cara ini diulas dalam buku Why We Sleep: Unlocking the Power of Sleep and Dreams yang ditulis oleh Matthew Maker. Baiklah, boleh jadi tebakan anda sejak awal benar, Gibran tertidur. Setidaknya anda hanya mungkin memberikan opsi Gibran Sudah Mati lebih sedikit dari 10 persen. Tapi begini penjelasannya, untuk membuat keyakinanmu terhadap Gibran betulan tidur bukan mati.
Tiap-tiap Organisme, menurut Matthew memiliki ciri khas ketika tertidur. Manusia sebagai bagian dari Kingdom Animalia yang berada di darat, umumnya memiliki ciri khas bentuk tidur berpola horizontal. Seperti Gibran yang tidur terlentang. Lalu, anda bisa coba memegang tubuhnya, tapi bukan bagian jantung atau nadi, karena itu menjadi sumber tebakan yang mudah menentukan Gibran tidur atau bukan. Coba amati bagian ototnya. Tonus, atawa tingkat ketegangan dan kekakuan otot manusia saat istirahat memiliki perilaku khas. Dalam kondisi tertidur, otot Gibran meskipun ia bertahun-tahun melakukan aktivitas Gym sehingga bentuk ototnya terlihat lebih kekar, pastilah otot miliknya lebih regang dan lemas ketika tertidur. Ini bisa terlihat jelas, apalagi jika anda melihat rangka posturalnya.
Rangka postural, adalah susunan tulang belakang dan komponen otot yang berfungsi untuk menjaga tubuh dalam posisi tegak, baik saat duduk maupun berdiri. Dalam kondisi tertidur, meski bentuk rangka tulang belakang ini tegak sebagai penopang, ia akan membungkuk ketika manusia tertidur. Ini bisa anda amati ketika melihat posisi kepala Gibran yang miring terkulai, karena dalam kondisi tidur, manusia akan menutupi penopang tulang bagian bawahnya. Demikian tiga ciri untuk menentukan apakah Gibran mati atau tidur dilihat dari beberapa ciri organnya. Tetapi masih ada tambahan, yaitu respon saraf. Tentu jaringan saraf, tanpa adanya tulisan inipun anda pasti tahu ia indikator utama menentukan apakah seseorang tertidur atau mati.
Tiap-tiap manusia yang sedang tertidur, ada bagian saraf yang berfungsi sebagai alat sensor akan diblokir oleh penghalang yang berada di Talamus. Talamus adalah bagian otak yang berfungsi sebagai alat pengatur informasi sensorik dan motorik yang masuk dan keluar dari otak. Talamus berperan dalam mengatur kesadaran, kewaspadaan, dan siklus tidur. Ketika manusia tidur, informasi ini akan diblokir oleh Talamus. Meskipun bentuknya oval dan kecil, Talamus mampu memutus sinyal mana yang diizinkan melewati gerbangnya. Jika informasi diizinkan melaju, ssinyal akan sampai pada korteks otak. Jika tidak, itulah ang terjadi, anda terpisah dari dunia luar dan tertidur. Karena hubungan anda dengan dunia luar-sadar terputus, maka Gibran sangat mungkin tidak akan merespon apa-apa saja yang anda lakukan pada dirinya.
Ada ciri mudah lain, meski Gibran takkan merespon anda ketika ia tidur. Coba bulak-balik, atau goyang-goyangkan tubuhnya. Jika tubuhnya kaku dan sulit dibalik, sangat mungkin ia tidak tertidur, tetapi koma dan atau mati. Mengapa, karena bagi manusia dalam kondisi koma, fungsi otaknya menurun sehingga otaknya terganggu untuk mengendalikan gerak dan fungsi tubuh lainnya. Barangkali juga, ia tidak mungkin ngulet. Bagian terakhir cara menentukan Gibran tidur atau mati, adalah bagian menarik. Manusia merupakan Makhluk Diurnal, atawa lawan dari Makhluk Nokturnal.
Makhluk lawan dari Nokturnal ini, lebih banyak memiliki aktivitas di waktu siang. Mulanya, menurut Ruben Rial bersama banyak kolega penelitinya, Mamalia belum mengenal tidur di Malam Hari. Pada masa Pra Evolusi Mamalia, yaitu hewan sebangsa Reptil bernama Synapsida, cikal Mamalia tak banyak beraktivitas di Siang Hari. Hal ini disebabkan siang adalah waktu hewan-hewan besar mencari makanan, seperti dalam kasus Dinosaurus. Oleh karena itu, musstahil bagi Pramammal ini keluar mencari makan di waktu siang dan mereka lebih memilih mendekam di tempat-tempat yang memiliki celah seperti gua. Di tempat semacam inilah, mereka melatih kepekaan pada kondisi gelap. Mamalia purba terpaksa beristirahat tanpa bergerak selama jutaan tahun dengan mata tertutup, tersembunyi di liang kedap cahaya selama waktu terang. Beginilah cara mereka menciptakan tidur. Setelah hewan besar, seperti Dinosaurus punah, barulah mereka menjelma menjadi Diurnal dan banyak keluar aktivitas di siang hari.
Gibran si keturunan Diurnal pun bagian dari evolusi ini.Sehingga, Mammal yang kemudian menjelma menjadi Gibran pada kehidupan saat ini, memiliki ritme waktu sirkadian yang membentuk manusia lebih suka terjaga pada siang hari dan tidur di malam hari. Selama ribuan tahun, cara hidup ini direkam oleh alat pacu jantung bernama Nukleus Suprakiasmatik. Nukleus suprachiasmatic (SCN), berfungsi sebagai pengatur utama ritme sirkadian yang mengatur waktu siklus tidur-bangun dan mengoordinasikannya dengan ritme sirkadian di area otak dan jaringan lain untuk meningkatkan adaptasi perilaku. Jika anda menemukan Gibran terkulai di malam hari, lebih dari 50 persen barangkali tebakan anda benar, ia benar-benar tertidur.
Baca Selanjutnya dalam:




