Menghidupkan Suara dari Desa: Mengapa Jurnalisme Warga dan Literasi Digital Dimulai dari Balai Desa?

Taman Sains
8 Min Read
Sumber Foto: Dicky Wahyudi - Dokumentasi Pelatihan Citizen Journalism di Desa Merjosari

Pengabdian FISIP Universitas Brawijaya untuk ruang digital yang sehat di level akar rumput.

Digitalisasi pedesaan sering kali terjebak dalam romantisme teknologis: menganggap bahwa dengan membuatkan sebuah website resmi, maka masalah komunikasi publik dan pelayanan di tingkat akar rumput otomatis selesai. Padahal, tanpa adanya kesiapan kapasitas manusia di baliknya, platform digital hanyalah sebuah monumen mati siber. Menghadapi realitas tersebut, Tim Pengabdian Masyarakat Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB), mencoba mengintervensi kesenjangan ini melalui program pendampingan pengembangan website resmi dan pelatihan citizen journalism (jurnalisme warga) bagi masyarakat serta pamong di Desa Mojosari, Kabupaten Malang. Program ini secara objektif hadir untuk memperkuat literasi digital, menaikkan mutu layanan informasi publik, serta menguji sejauh mana warga desa dapat didorong untuk aktif memproduksi informasi lokal yang bermanfaat.

Satu hal yang membedakan program ini dari proyek instan lainnya adalah linimasa pelaksanaannya yang dirancang bertahap. Alih-alih melakukan pelatihan satu hari lalu pulang, tim pengabdian merancang komitmen ini dalam rentang waktu yang cukup panjang. Fase perencanaan dan penyiapan sistem dilaksanakan mulai 26 Maret hingga 27 Juli 2022. Proses kemudian berlanjut pada fase yang krusial, yakni pendampingan pengelolaan teknis website dari 27 Juli hingga 27 September 2022. Sebagai muara dari rangkaian intervensi tersebut, pelatihan tatap muka mengenai jurnalisme warga didegas pada 5 Oktober 2022 di balai desa, mempertemukan perangkat desa dan perwakilan masyarakat secara langsung.

Mengurai Kebutuhan dan Metode Intervensi

Secara objektif, fondasi program ini berangkat dari kebutuhan riil Desa Mojosari akan sebuah sarana informasi resmi. Selama ini, media komunikasi yang valid dan mudah diakses sering kali absen di tingkat desa, padahal urgensinya sangat tinggi untuk tiga fungsi utama: pelayanan publik, penyebarluasan informasi birokrasi, dan ruang promosi potensi lokal. Keberadaan website diharapkan mampu memangkas jarak komunikasi serta memperkuat interaksi dua arah antara pamong desa dan warga.

Untuk memastikan intervensi ini tepat sasaran dan tidak sekadar menghasilkan luaran fisik, tim FISIP UB menerapkan metodologi berlapis. Tahapan pengerjaan disusun secara berurutan, meliputi:

  1. Penentuan lokasi kegiatan;

  2. Pemetaan masalah masyarakat secara riil;

  3. Perencanaan pengembangan struktur arsitektur website;

  4. Pembuatan website resmi desa;

  5. Pendampingan pengelolaan operasional website;

  6. Pelatihan citizen journalism.

Tujuan akhir dari rangkaian metodologi ini adalah transfer kapasitas—sebuah upaya agar pasca-program berakhir, masyarakat dan perangkat desa memiliki kemandirian penuh dalam mengelola informasi mereka sendiri tanpa ketergantungan pada pihak luar.

Cetak Biru Fitur dan Tantangan Aksesibilitas

Dari segi produk teknologi, website resmi Desa Mojosari dikembangkan untuk memuat data fundamental desa yang komprehensif. Sistem ini memayungi informasi profil desa, visi dan misi, data kependudukan, klasifikasi data pekerjaan, hingga dokumentasi potensi ekonomi dan agenda kegiatan desa.

Tim pengembang menyadari bahwa secanggih apa pun sebuah sistem, ia akan sia-sia jika sulit dioperasikan. Oleh karena itu, aspek kemudahan penggunaan (user-friendliness) menjadi perhatian utama dalam perancangan. Tujuannya jelas: agar pamong desa selaku admin tidak menghadapi kendala teknis yang rumit saat memperbarui data, dan warga selaku pengguna dapat menyerap informasi secara praktis. Namun, efektivitas fitur ini tentu sangat bergantung pada konsistensi pemeliharaan (maintenance) di masa mendatang.

Uji Etika dalam Ekosistem Jurnalisme Warga

Sisi paling kritis dari program ini terletak pada bagaimana melatih warga desa agar mampu memproduksi konten secara bertanggung jawab di tengah kepungan hoaks. Melalui pelatihan citizen journalism, warga dibekali pemahaman untuk menyusun berita atau konten daring yang informatif, etis, dan tidak menyesatkan. Keterampilan ini menjadi benteng penting mengingat ruang digital saat ini dipenuhi oleh risiko manipulasi informasi.

Pelatihan jurnalisme warga desa oleh FISIP UB di Mojosari
Sumber Foto: Dicky Wahyudi – Dokumentasi Pelatihan Citizen Journalism di Desa Merjosari

Reza Safitri, S.Sos., M.Si., Ph.D., yang bertindak sebagai pemateri utama pelatihan, memberikan penekanan kritis bahwa fungsi jurnalisme warga memiliki tanggung jawab sosial yang besar, bukan sekadar ruang katarsis personal. Beliau menjelaskan:

Citizen journalism bukan sekadar mengunggah informasi ke media digital. Warga perlu memahami bahwa setiap konten yang dipublikasikan harus berangkat dari informasi yang benar, disampaikan secara etis, dan memiliki manfaat bagi masyarakat. Dengan begitu, website desa tidak hanya menjadi ruang publikasi, tetapi juga ruang edukasi dan partisipasi warga.”

Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan pada berbagai format konten yang bisa diproduksi secara mandiri, mulai dari karya tulis, jurnalisme foto, dokumentasi video, penulisan ulasan (review), hingga pelaporan kegiatan lokal. Ekspektasi dari materi ini adalah reposisi peran masyarakat: dari yang awalnya merupakan objek atau penerima informasi pasif, bertransformasi menjadi subjek atau produsen informasi yang membagikan fakta bermanfaat di lingkungannya.

Meski demikian, kebebasan menjadi produsen informasi ini memicu tantangan baru terkait sensor mandiri dan kesadaran hukum. Reza Safitri menggarisbawahi bahwa kecakapan teknis harus berjalan beriringan dengan ketajaman etika.

“Di era digital, siapa pun dapat menjadi penyampai informasi. Karena itu, kemampuan memeriksa kebenaran informasi, memahami konteks, dan menghindari konten yang berpotensi menyesatkan menjadi keterampilan penting bagi masyarakat desa,” ungkapnya.

Urgensi etika bermedia daring inilah yang menjadi poin krusial dalam diskusi. Setiap bait informasi yang dipublikasikan di website desa wajib menimbang akurasi data, relevansi kepentingan publik, serta mitigasi dampak sosial yang mungkin meletup di masyarakat. Hanya dengan kepatuhan terhadap etika inilah website desa dapat mempertahankan kredibilitasnya dan berfungsi sebagai pilar tata kelola komunikasi publik yang sehat.

Aktor di Balik Layar

Program pendampingan yang kompleks ini digerakkan oleh jajaran akademisi dari Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UB. Tim pendamping diketuai oleh Muhammad Irawan Saputra, S.I.Kom., M.I.Kom., yang mengoordinasikan anggota tim yang terdiri atas:

  • Reza Safitri, S.Sos., M.Si., Ph.D.

  • Abdul Hair, S.I.Kom., M.A.

  • Dewanto Putra Fajar, S.Sos., M.Si.

  • Ahmad Zaki Fadlurahman, S.I.P., M.A.

  • Nasirul Ibad, S.I.Kom.

Kerja tim ini dibantu oleh asisten pendampingan, Sinta Ayudia dan Agustina Sitti Anggawen.

Secara institusional, Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UB berharap agar platform yang telah dibangun ini dapat dioptimalkan secara berkelanjutan oleh Desa Mojosari sebagai media pelayanan publik dan ruang promosi desa. Program ini menaruh harapan besar pada peningkatan kapasitas warga agar mampu memanfaatkan ruang siber secara produktif, etis, dan bertanggung jawab. Namun, keberhasilan jangka panjang dari investasi sosial ini tentu baru bisa diuji setelah tim pendamping dari universitas ditarik sepenuhnya dari lapangan.

Bagaimana Menurut Pembaca Taman Sains?

Sebuah program pengabdian masyarakat sering kali terlihat indah di atas kertas draf laporan. Namun, tantangan sesungguhnya baru dimulai ketika pendampingan dari universitas selesai. Apakah menurut Anda pembuatan website desa dan pelatihan jurnalisme warga semacam ini akan benar-benar berhasil mengubah perilaku literasi digital masyarakat secara jangka panjang? Ataukah platform ini berisiko kembali terbengkalai begitu benturan keterbatasan SDM dan infrastruktur desa muncul di dunia nyata?

Tulis opini dan analisis kritis Anda di kolom komentar di bawah untuk mendiskusikan masa depan digitalisasi pedesaan kita.

Share This Article
Leave a comment
Layanan Prima Taman Sains

Form Pendaftaran Kontributor Penulis tamansains.com