Bayangkan membelah sebuah melon. Kulitnya hitam mengilap, tetapi di dalamnya daging buah berwarna oranye cerah, tebal, dan manis. Buah seperti ini nyaris tak pernah terlintas di pasar buah Indonesia, yang biasanya dipenuhi melon berkulit hijau atau kuning. Buah itulah yang dirakit Astrid Ika Paramitha, dosen Agroteknologi Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang sekaligus mahasiswa doktoral Pemuliaan Tanaman dan Bioteknologi Universitas Brawijaya (UB), selama bertahun-tahun di laboratorium dan greenhouse.
Artikel ini menelusuri perjalanan Astrid: dari rencana awal yang bukan melon, cara kerja iradiasi sinar gamma yang melahirkan melon hitam, karakter buahnya, hingga pertanyaan yang sering muncul: benarkah ini yang pertama di dunia? Taman Sains juga berkesempatan berbincang langsung dengan Bu Astrid dalam podcast Asiknya Kupas Riset & Akademik Bareng Taman Sains (AKRAB Pods).
Tonton Video Podcast nya DISINI!
Dari Stroberi ke Melon: Awal Sebuah Riset
Astrid mengajar di Fakultas Sains dan Teknologi Unira Malang dengan minat pemuliaan tanaman dan bioteknologi. Di saat yang sama ia menempuh studi doktoral di UB melalui beasiswa LPDP. Dalam wawancara beasiswa itu, ia ditanya apa yang bisa ia sumbangkan bagi Indonesia. Jawabannya: merakit genetik harapan baru untuk petani Indonesia, dengan fokus pada kualitas buah.
Objek penelitiannya ternyata tidak langsung melon. Rencana awalnya adalah stroberi. Namun merakit varietas stroberi membutuhkan sekitar enam tahun, sementara studi S3 hanya punya batas waktu empat hingga tujuh tahun. Atas arahan profesor pembimbingnya, ia beralih ke melon. Motivasinya jelas: sebagian besar benih melon di Indonesia masih didatangkan dari luar negeri dengan harga relatif mahal, dan ia ingin produk lokal setara dengan produk luar negeri.
Riset dimulai sekitar Mei 2021. Astrid mengaku tidak mematok target muluk. Ia menjalani prosesnya apa adanya, sampai muncul sesuatu yang tak terduga.

Merakit, Bukan Sekadar Menemukan: Cara Kerja Iradiasi Sinar Gamma
Astrid sendiri lebih suka memakai kata “merakit” ketimbang “menemukan”. Melon hitam ini tidak ditemukan tumbuh liar, melainkan dihasilkan melalui pemuliaan mutasi, yaitu teknik yang memicu perubahan pada DNA tanaman sehingga muncul keragaman sifat baru.
Langkahnya kurang lebih begini:
- Astrid membawa sekitar 5.400 biji melon sebagai bahan awal. Biji-biji utama berasal dari luar negeri.
- Biji disinari sinar gamma dengan berbagai dosis di laboratorium Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Jakarta, yang kini bagian dari BRIN.
- Biji hasil iradiasi ditanam dan diamati dari generasi ke generasi. Pada generasi mutasi ketiga (M3), muncul sekitar 1.300 genetik baru yang kemudian diseleksi.
- Tanaman yang unik dipindahkan ke area produksi untuk diuji dan dievaluasi.
Astrid menegaskan bahwa melon ini bukan produk GMO. Pada GMO, gen atau DNA dari organisme lain disisipkan ke tanaman. Pada risetnya tidak ada gen asing yang ditambahkan. Sinar gamma hanya mengubah DNA tanaman itu sendiri secara acak, lalu ia memilih hasil terbaik lewat seleksi bertahap. Ini juga bukan persilangan biasa.
Riset serupa tahap awalnya terdokumentasi dalam literatur ilmiah. Pada 2026, Astrid bersama tim Laboratorium Pemuliaan Tanaman Fakultas Pertanian UB menerbitkan makalah di jurnal Biodiversitas tentang keragaman fenotipe melon hasil iradiasi gamma pada dosis 0 hingga 150 Gy di generasi M2. Studi itu mengidentifikasi empat calon mutan baru dengan warna kulit gelap yang tidak ada pada tanaman kontrol, tanpa penurunan berarti pada sifat kuantitatif lain seperti bobot dan kemanisan.
Satu di Antara Ribuan: Perjalanan di Greenhouse Pakisaji
Tanaman melon dibudidayakan di greenhouse milik Kelompok Tani Madukismo I di Desa Permanu, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, di atas lahan sekitar satu hektare. Penanaman dilakukan dalam tiga tahap, masing-masing sekitar tiga bulan hingga berbuah. Penyiraman dan pemupukan memakai teknologi internet of things (IoT) dengan bantuan Kementerian Komunikasi dan Informatika. Astrid dibantu sejumlah mahasiswa dan petani setempat.
Hasilnya beragam. Di greenhouse itu tumbuh melon berwarna hijau dan kuning, berbentuk lonjong, bahkan ada yang kotak. Astrid mengaku menemukan variasi rasa unik pula, mulai dari aroma mirip durian hingga permen karet. Sebenarnya target awalnya adalah melon berkulit hijau sembur. Namun di antara ribuan tanaman, muncul melon berkulit hitam.
Sumber-sumber memberi angka berbeda soal kelangkaannya. Rilis UB yang dikutip sejumlah media menyebut ada 13 tanaman yang menonjol karena berwarna hitam. Dalam wawancara dengan detikEdu, Astrid menyebut peluang mendapatkan melon hitam lewat iradiasi sinar gamma di lapangan sekitar satu dari 1.500 populasi, dan percobaan itu ia ulang hingga tiga kali.
Astrid kemudian memberi nama dua calon genetik unggulannya: Broken White untuk melon hitam berbintik putih, dan Sawwad Melon untuk melon hitam mengilap. “Sawwad” diambil dari bahasa Arab yang berarti “menjadi hitam”.
Seperti Apa Melon Hitam Ini?

Berdasarkan penuturan Astrid dan laporan sejumlah media, berikut karakter utama melon hitam ini:
- Penampilan: kulit hitam mengilap, ada yang berbintik putih hingga hijau gelap. Daging buah oranye dengan ketebalan sekitar 3,5 cm.
- Ukuran: bobot sekitar 1,3 hingga 1,5 kg dengan diameter sekitar 13 cm, tergantung budidaya.
- Kemanisan: sekitar 15 °Brix. Astrid menyebut kisaran 15 hingga 17 °Brix, sedangkan melon pada umumnya sekitar 12 °Brix.
- Tekstur dan rasa: bagian luar renyah, lalu terasa lembut dan kenyal ketika dikunyah, dengan aroma wangi dan aftertaste yang kuat. Astrid mengakui rasa bisa bervariasi, dan sebagian buah ada yang kurang manis.
- Daya simpan: mampu bertahan hingga sekitar dua bulan tanpa busuk, nilai lebih untuk distribusi dan ekspor.
- Ketahanan: tahan penyakit. Batang dan tangkai daunnya berbulu halus yang tidak disukai hama.
- Biji: buahnya berbiji, bukan tanpa biji.
Menurut Astrid, secara genetik sifat-sifat ini sudah bersifat dominan pada calon genetik yang ia pilih.
Benarkah yang Pertama di Dunia? Membaca Klaim dengan Teliti

Judul “penemu melon hitam pertama” perlu dibaca dengan konteks, dan kisahnya sendiri berkembang dari waktu ke waktu.
Pada awal pemberitaan, temuan ini disebut menjadikan Indonesia negara kedua di dunia yang memiliki melon hitam, setelah Prancis dengan Noir des Carmes. Dalam penelusuran lanjutan, Astrid menyebut bahwa menurut informasi dari pelaku industri benih yang ia hubungi, Noir des Carmes ternyata tergolong blewah (cantaloupe), bukan melon. Ia juga menelusuri varietas dari Spanyol yang berkulit hijau gelap, tetapi berdaging hijau. Dari situ ia menyimpulkan bahwa melon hitam berdaging oranye hasil rakitannya adalah satu-satunya di dunia. Perlu dicatat, ini adalah klaim dan penelusuran dari pihak penemu yang belum kami temukan diverifikasi oleh pihak independen.
Ada pula pembanding dari dalam negeri. Mongabay Indonesia mencatat melon Tacapa Green Black dari peneliti UGM, yang didaftarkan ke Kementerian Pertanian pada 2015. Melon itu berkulit hijau kehitaman, bukan hitam legam, dengan daging kekuningan, dan daya simpannya sekitar 20 hari, jauh di bawah klaim 60 hari pada melon hitam Astrid. Di sisi lain, Anung Wahyudi dari Politeknik Negeri Lampung, yang dimintai pendapat oleh Mongabay, menyatakan belum ada varietas melon hitam selain jenis semangka hitam.
Kesimpulannya: melon hitam Astrid layak disebut sebagai capaian orisinal dan langka dalam pemuliaan melon Indonesia. Status “pertama di dunia” sebaiknya disampaikan sebagai klaim peneliti sampai ada verifikasi lebih lanjut.
Jalan Panjang Menuju Varietas Resmi

Penting dipahami bahwa melon hitam ini masih berstatus calon genetik atau genetik harapan, belum varietas resmi. Menurut Anung Wahyudi, penemuan varietas baru bisa memerlukan hingga mutan generasi keenam atau ketujuh (M6 atau M7). Untuk mendapat hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) dari Kementerian Pertanian, sebuah varietas harus memenuhi syarat baru, unik, seragam, dan stabil. Dua varietas melon temuan Anung sendiri membutuhkan sekitar enam tahun sejak awal riset hingga memperoleh PVT pada 2024.
Astrid menyiapkan langkah perlindungan lebih dulu lewat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), agar hasil risetnya tidak mudah diambil pihak yang tidak bertanggung jawab. Ia menyebut paten belum menjadi target saat ini, dan berharap pemerintah dapat turut mengambil hasil temuan ini agar bisa disebarluaskan dan dibudidayakan petani Indonesia. Hingga artikel ini disusun, kami belum menemukan informasi publik mengenai pendaftaran PVT atau penerbitan sertifikat HAKI untuk melon hitam tersebut.
Di Balik Melon Hitam: Dosen, Ibu, dan Mahasiswa Doktoral
Di lingkungan kampus, Astrid dikenal dengan sapaan “Bunda Cantek”. Di luar riset, ia adalah ibu dan istri yang juga mengurus keluarga. Ia mengaku sempat kewalahan membagi waktu antara kuliah S3, riset disertasi, mengajar di kampus swasta, dan peran di rumah, sebelum riset mulai menunjukkan hasil setelah sekitar dua setengah tahun.
Kecintaannya pada tanaman juga tampak di luar laboratorium. Ia menggagas penghijauan di kampus Unira Malang di Kepanjen yang manfaatnya masih terasa hingga kini. Ia juga berpegang pada keyakinan bahwa akademisi semestinya meneliti, lalu mengajarkan hasil risetnya kepada mahasiswa. Saking fokusnya pada studi S3, ia mengaku belum sempat mengurus jabatan fungsional dosen.
Mengapa Temuan Ini Penting
Pertama, ia menyentuh persoalan benih. Ketika sebagian besar benih melon berasal dari luar negeri, genetik unggulan buatan peneliti Indonesia membuka peluang kemandirian benih, terutama bila nanti resmi menjadi varietas.
Kedua, ia menunjukkan potensi pemuliaan mutasi. Satu melon berkulit hitam muncul dari ribuan tanaman, bukti bahwa keragaman genetik yang dipicu iradiasi bisa menjadi sumber sifat baru, mulai dari warna hingga daya simpan dan ketahanan penyakit.
Ketiga, ia relevan secara agronomi. Menurut Anung Wahyudi, kondisi geografis Indonesia dengan dataran rendah, menengah, hingga tinggi sangat mendukung budidaya melon, sehingga penelitian pemuliaan seperti ini potensial dikembangkan.
Penutup
Per 1 November 2026 ini melon hitam karya Astrid Ika Paramitha belum menjadi varietas yang bisa dibeli petani, dan perjalanan menuju PVT masih panjang. Namun kisahnya memperlihatkan hal penting tentang sains: hasil besar sering lahir dari rencana yang berubah, ketekunan bertahun-tahun, dan kesediaan menerima kejutan. Dari target melon hijau sembur, Astrid justru menemukan satu buah hitam mengilap yang kini menjadi simbol harapan bagi benih karya anak bangsa.
Sumber
- TIMES Indonesia, “Astrid Ika Paramitha, Penemu si Melon Hitam Pertama di Indonesia” (9 Desember 2024)
- detikJatim, “Calon Doktor UB Temukan Melon Hitam” (14 April 2025)
- detikEdu, “Disebut Pertama di Dunia! Melon Hitam Hasil Rekayasa Genetika Mahasiswa S3 UB” (29 April 2025)
- Mongabay Indonesia, “Melon Hitam dan Varietas Buah Unggul Indonesia” (4 Mei 2025)
- Good News From Indonesia, “Indonesia Punya Melon Hitam, Varietas Baru Temuan Mahasiswa S3 UB” (13 Maret 2025)
- Fajar.co.id, “Temuan Varietas Melon Hitam oleh Mahasiswa S3 Universitas Brawijaya” (19 Maret 2025)
- Nyata Media, “Astrid Ika Paramitha Temukan Melon Hitam Pertama di Dunia” (9 Juni 2025)
- Kompas.id, “Ditemukan Melon Hitam yang Lebih Tahan Lama dan Manis”
- Paramitha AI, Sugiharto AN, Waluyo B, Adiredjo AL, Arifin AG. 2026. Exploring phenotypic variability in gamma-irradiated melon (Cucumis melo) for early-generation putative mutant selection. Biodiversitas 27(3): d270324. https://doi.org/10.13057/biodiv/d270324
- Podcast Taman Sains bersama Astrid Ika Paramitha: https://www.youtube.com/watch?v=nGM175HANxI



