Dari Riset hingga Produksi: Pelajar Kota Batu Mendalami Etnografi Visual dan Film Dokumenter melalui Workshop Sinematografi di FISIP UB

Taman Sains
7 Min Read

Malang, 22 September 2026 — Program Titik Kumpul Sains dan Teknologi 2026 melanjutkan rangkaian kegiatannya melalui Workshop Sinematografi yang diselenggarakan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya. Kegiatan ini menjadi tahap pembekalan bagi pelajar Kota Batu sebelum melaksanakan penelitian lapangan dan memproduksi film dokumenter pariwisata bunga Kota Batu mengenai pengetahuan lokal dalam praktik pariwisata bunga. Melalui kegiatan tersebut, siswa diperkenalkan pada proses produksi sinematografi yang mengintegrasikan keterampilan penelitian, pengamatan sosial, pengembangan cerita, dan representasi audiovisual.

Program yang diketuai oleh Reza Safitri, Ph.D., dari FISIP Universitas Brawijaya ini mengangkat tema “Science through Cinema: Menggali dan Merawat Pengetahuan Lokal dalam Praktik Pariwisata Bunga Kota Batu melalui Visual Etnografi dan Komunikasi Sains.” Program ini menempatkan sinematografi tidak semata-mata sebagai aktivitas produksi kreatif, tetapi juga sebagai pendekatan untuk memahami dan mengomunikasikan pengetahuan yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Dalam perspektif etnografi visual, dokumentasi audiovisual dapat menjadi bagian dari proses penelitian untuk memahami pengalaman, praktik budaya, serta relasi sosial yang membentuk kehidupan sehari-hari (Pink, 2013).

Workshop menghadirkan praktisi perfilman Nyonyo Esha sebagai pemateri utama. Sepanjang kegiatan, peserta memperoleh pembekalan mengenai tahapan produksi film dokumenter, mulai dari riset dan pra-produksi, pelaksanaan produksi, hingga pasca-produksi. Nyonyo juga menampilkan sejumlah karya dokumenter, termasuk film-film yang pernah diproduksinya, sebagai referensi untuk memperlihatkan bagaimana hasil pengamatan dan penelitian dapat dikembangkan menjadi cerita audiovisual. Pembekalan ini menekankan pentingnya hubungan antara kedalaman riset, pemilihan sudut pandang, dan kemampuan membangun narasi yang dapat dipahami oleh penonton.

Dalam kajian film dokumenter, Nichols (2017) menjelaskan bahwa dokumenter tidak sekadar merekam realitas, tetapi juga merepresentasikan dunia historis melalui pilihan perspektif, struktur naratif, dan strategi audiovisual tertentu. Perspektif tersebut menjadi landasan penting dalam pembelajaran sinematografi karena setiap keputusan mengenai objek, pengambilan gambar, penyusunan adegan, dan proses penyuntingan turut membentuk cara suatu realitas dipahami. Oleh karena itu, siswa didorong untuk memahami bahwa produksi film dokumenter membutuhkan tanggung jawab dalam merepresentasikan kehidupan masyarakat, termasuk ketika mengangkat pengetahuan lokal sebagai sumber utama cerita.

Proses pembelajaran berlangsung secara partisipatif melalui diskusi, eksplorasi gagasan, dan kerja kelompok. Sebanyak 31 peserta dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan hasil asesmen minat dan kecenderungan peran dalam produksi sinematografi. Pembagian tersebut mencakup posisi sebagai penulis dan periset, sutradara, kamerawan, editor, penata suara, serta produser. Melalui pembagian peran ini, siswa diperkenalkan pada tanggung jawab masing-masing sekaligus memahami bahwa produksi dokumenter merupakan proses kolaboratif yang membutuhkan koordinasi antara kegiatan penelitian, pengembangan cerita, dan pengambilan keputusan kreatif.

Pembelajaran berbasis praktik tersebut sejalan dengan pendekatan experiential learning yang dikembangkan Kolb (1984), yakni pembentukan pengetahuan melalui hubungan antara pengalaman konkret, refleksi, konseptualisasi, dan eksperimen aktif. Dalam konteks workshop, siswa tidak hanya menerima pengetahuan mengenai teknik produksi, tetapi juga mulai menerapkannya melalui penyusunan gagasan, diskusi kelompok, dan perencanaan karya dokumenter. Pendekatan ini diharapkan dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kerja sama, serta kepekaan siswa dalam mengidentifikasi fenomena sosial yang berpotensi diangkat menjadi cerita audiovisual.

Salah satu sesi utama dalam workshop adalah diskusi kelompok yang didampingi langsung oleh Nyonyo Esha. Setiap kelompok melakukan brainstorming untuk menentukan arah cerita, mengidentifikasi objek penelitian, dan merumuskan konsep awal film dokumenter pariwisata bunga Kota Batu. Dalam proses tersebut, siswa tidak hanya diarahkan untuk mempertimbangkan objek yang menarik secara visual, tetapi juga menelaah alasan suatu cerita perlu disampaikan, pengetahuan apa yang dapat digali, serta manfaat yang diharapkan dari film tersebut. Melalui diskusi dan pengembangan gagasan, masing-masing kelompok berhasil menyusun sinopsis awal sebagai dasar untuk melaksanakan penelitian lapangan.

Nyonyo juga menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi dalam produksi dokumenter. Menurutnya, proses pembuatan film tidak selalu berlangsung sesuai dengan rancangan awal karena pembuat film akan berhadapan dengan situasi, peristiwa, dan dinamika sosial yang tidak sepenuhnya dapat diprediksi. Oleh sebab itu, kemampuan melakukan improvisasi perlu dibangun tanpa mengabaikan tujuan dan arah cerita yang telah dirumuskan melalui proses penelitian.

“Terkadang apa yang terjadi di produksi kita tidak sesuai dengan planning kita, jadi kita juga harus siapkan jiwa improve kita ketika menghadapi hal yang tidak sesuai rencana. Terkadang improvisasi bisa memberi nilai tambah untuk karya visual kita,” ujar Nyonyo.

Penekanan terhadap kemampuan improvisasi tersebut memperlihatkan bahwa produksi film dokumenter membutuhkan keseimbangan antara perencanaan dan kepekaan terhadap realitas lapangan. Berbeda dengan produksi yang sepenuhnya bertumpu pada skenario, proses dokumenter memungkinkan munculnya informasi, pengalaman, dan peristiwa baru yang dapat memengaruhi perkembangan cerita. Karena itu, siswa didorong untuk mengembangkan keterampilan observasi, mendengarkan pengalaman masyarakat, serta menyesuaikan strategi pengambilan gambar berdasarkan situasi yang ditemukan selama penelitian.

Workshop Sinematografi ini menjadi penghubung antara pembelajaran konseptual dan praktik penelitian lapangan. Setelah memperoleh pemahaman mengenai dasar riset, pengembangan cerita, produksi, dan pasca-produksi, masing-masing kelompok akan melanjutkan kegiatan melalui penelitian etnografi visual dan produksi sinematografi di Kota Batu. Tahapan tersebut diarahkan untuk menggali pengetahuan lokal yang berkaitan dengan praktik pariwisata bunga, termasuk pengalaman, keterampilan, dan praktik sosial masyarakat yang berperan dalam membentuk serta mempertahankan aktivitas pariwisata tersebut.

Setelah tahap penelitian dan produksi, para siswa akan memperoleh pendampingan serta mentoring untuk mengembangkan dan menyempurnakan karya dokumenter masing-masing. Keseluruhan rangkaian program selanjutnya akan bermuara pada pemutaran film dan diskusi publik yang mempertemukan karya siswa dengan masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, film dokumenter diharapkan tidak hanya menjadi luaran pembelajaran, tetapi juga medium komunikasi sains yang memungkinkan pengetahuan lokal didokumentasikan, disampaikan, dan didiskusikan dalam ruang publik.

Melalui pendekatan tersebut, Science through Cinema berupaya mempertemukan pendidikan, penelitian, dan kreativitas audiovisual dalam satu proses pembelajaran kolaboratif. Keterlibatan siswa sejak tahap perumusan gagasan, penelitian lapangan, hingga produksi dokumenter diharapkan dapat membentuk pengalaman belajar yang lebih reflektif dan kontekstual. Program ini sekaligus menempatkan generasi muda sebagai periset dan pencerita visual yang berkontribusi dalam menggali, merawat, serta mengomunikasikan pengetahuan lokal masyarakat Kota Batu melalui karya sinematografi. (DW)

Referensi

  • Kolb, D. A. (1984). Experiential learning: Experience as the source of learning and development. Prentice Hall.

  • Nichols, B. (2017). Introduction to documentary (3rd ed.). Indiana University Press.

  • Pink, S. (2013). Doing visual ethnography (3rd ed.). SAGE Publications.

Share This Article
Leave a comment

slot

mauslot

mauslot

rtp

spaceman

slot thailand

mauslot

sbobet

slot deposit 5k

slot qris

Layanan Prima Taman Sains

Form Pendaftaran Kontributor Penulis tamansains.com