Kota Batu — Tim Titik Kumpul Sains dan Teknologi Universitas Brawijaya melaksanakan sosialisasi dan penjaringan siswa di SMAN 1 Batu dan SMKN 3 Batu sebagai tahap awal pelaksanaan program Titik Kumpul Sains dan Teknologi Tahun 2026 yang difasilitasi oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Program ini menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah untuk memperkenalkan praktik penelitian sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda dalam menggali, mendokumentasikan, dan mengomunikasikan riset pengetahuan lokal Kota Batu melalui medium sinematografi.
Program yang diketuai oleh Reza Safitri, Ph.D., dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya tersebut mengangkat tema “Science through Cinema: Menggali dan Merawat Pengetahuan Lokal dalam Praktik Pariwisata Bunga Kota Batu melalui Visual Etnografi dan Komunikasi Sains.” Melalui program ini, siswa tidak hanya diperkenalkan dengan keterampilan produksi audiovisual, tetapi juga dilibatkan sebagai bagian dari proses penelitian untuk memahami pengetahuan lokal yang berkembang dalam praktik pariwisata bunga di Kota Batu.
Pendekatan yang dikembangkan dalam program ini menempatkan sinematografi sebagai medium penelitian sekaligus sarana komunikasi pengetahuan. Dalam perspektif etnografi visual, penggunaan medium audiovisual memungkinkan peneliti memahami praktik sosial dan budaya melalui pengalaman, interaksi, serta representasi visual yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat (Pink, 2013). Dengan pendekatan tersebut, siswa didorong untuk tidak sekadar merekam aktivitas masyarakat, tetapi juga mengidentifikasi, memahami, dan menafsirkan pengetahuan lokal yang mendasari praktik pariwisata bunga sebagai bagian dari identitas sosial dan budaya Kota Batu.

Sosialisasi dan penjaringan peserta dilaksanakan di dua sekolah mitra. Kegiatan pertama berlangsung di SMAN 1 Batu pada Selasa, 15 September 2026, dengan melibatkan 36 siswa kelas X dan XI. Kegiatan berikutnya diselenggarakan di SMKN 3 Batu pada Kamis, 17 September 2026, dan diikuti oleh 20 siswa kelas X dan XI. Secara keseluruhan, sebanyak 56 siswa dari kedua sekolah berpartisipasi dalam tahap awal program untuk memperoleh pengenalan mengenai tujuan, tahapan penelitian, serta peluang keterlibatan mereka dalam proses produksi sinematografi berbasis pengetahuan lokal.

Dalam kegiatan tersebut, Reza Safitri menjelaskan bahwa program Titik Kumpul Sains dan Teknologi dirancang untuk mempertemukan proses penelitian dengan pengalaman belajar yang partisipatif. Keterlibatan siswa dalam kegiatan penelitian dan produksi sinematografi diharapkan dapat memberikan pengalaman langsung dalam memahami fenomena sosial di lingkungan mereka. Pendekatan ini sejalan dengan gagasan experiential learning yang menempatkan pengalaman konkret, refleksi, konseptualisasi, dan eksperimen aktif sebagai proses yang saling berkaitan dalam pembentukan pengetahuan (Kolb, 1984).
“Program ini dirancang agar siswa tidak hanya menjadi penonton atau penerima informasi, tetapi terlibat dalam proses menemukan, mendokumentasikan, dan menceritakan kembali pengetahuan yang ada di lingkungan mereka. Sinematografi menjadi medium untuk mempertemukan proses riset, pengetahuan lokal, dan kreativitas generasi muda,” jelas Reza.
Selain memperkenalkan program, kegiatan sosialisasi juga menjadi tahap awal penjaringan siswa yang akan terlibat secara intensif dalam rangkaian kegiatan selanjutnya. Para peserta mengikuti pre-test dan self-assessment untuk memetakan pengetahuan awal, minat, serta kecenderungan peran mereka dalam proses penelitian dan produksi sinematografi. Berdasarkan proses tersebut, terpilih sebanyak 30 siswa, yang terdiri atas 15 siswa SMAN 1 Batu dan 15 siswa SMKN 3 Batu, untuk mengikuti tahapan program berikutnya.
Siswa terpilih selanjutnya akan mengikuti rangkaian kegiatan secara bertahap, mulai dari workshop sinematografi, penelitian lapangan melalui etnografi visual, pengembangan cerita, hingga proses produksi audiovisual. Dalam pelaksanaannya, siswa akan menjalankan beragam peran yang saling berkaitan, antara lain sebagai penulis dan periset, sutradara, kamerawan, editor, penata suara, serta produser. Pembagian peran tersebut dirancang untuk memperkenalkan proses kerja kolaboratif sekaligus mengintegrasikan keterampilan penelitian, pengolahan informasi, dan kreativitas dalam penyampaian pengetahuan.
Rangkaian kegiatan ini akan bermuara pada produksi karya sinematografi yang mengangkat riset pengetahuan lokal Kota Batu dalam praktik pariwisata bunga. Karya yang dihasilkan tidak hanya diposisikan sebagai luaran pembelajaran, tetapi juga sebagai medium komunikasi sains untuk mempertemukan pengetahuan yang diperoleh melalui penelitian dengan masyarakat yang lebih luas. Dalam kajian komunikasi sains, hubungan antara pengetahuan ilmiah, media, dan masyarakat merupakan aspek penting untuk memahami bagaimana pengetahuan dikomunikasikan, dipertukarkan, serta dimaknai dalam kehidupan sosial (Bucchi & Trench, 2021).
Sebagai bagian dari proses diseminasi, karya sinematografi siswa selanjutnya akan dipresentasikan melalui pemutaran film dan diskusi publik. Kegiatan ini diharapkan membuka ruang dialog antara siswa, akademisi, dan masyarakat mengenai pengetahuan lokal yang hidup dalam praktik pariwisata bunga. Dengan demikian, proses komunikasi sains tidak berhenti pada penyampaian hasil penelitian, tetapi juga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk terlibat dalam pembacaan dan pemaknaan terhadap pengetahuan yang didokumentasikan melalui karya audiovisual.
Melalui kolaborasi antara Universitas Brawijaya, SMAN 1 Batu, dan SMKN 3 Batu, program Science through Cinema diharapkan dapat memperkuat keterhubungan antara pendidikan, penelitian, dan praktik komunikasi sains berbasis pengetahuan lokal. Keterlibatan siswa sejak tahap identifikasi masalah hingga produksi sinematografi menjadi upaya untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kepekaan sosial, serta keterampilan komunikasi audiovisual. Lebih jauh, program ini diharapkan dapat menunjukkan bahwa generasi muda tidak hanya berperan sebagai penerima pengetahuan, tetapi juga sebagai aktor yang berkontribusi dalam menggali, merawat, dan menyebarluaskan pengetahuan lokal kepada masyarakat. (DW)
Referensi
Bucchi, M., & Trench, B. (Eds.). (2021). Routledge handbook of public communication of science and technology (3rd ed.). Routledge.
Kolb, D. A. (1984). Experiential learning: Experience as the source of learning and development. Prentice Hall.
Pink, S. (2013). Doing visual ethnography (3rd ed.). SAGE Publications.



